Tonggak-tonggak Stadschouwburg

Awal abad 19. Belanda dalam cengkeraman Napoleon Bonaparte. Inggris mengambilalih negeri-negeri jajahan Belanda termasuk Jawa. Thomas Stamford Raffles tiba ke sini sebagai Letnan Gubernur Jawa pada 1811.

Meski kekuasaan Inggris berumur 5 tahun, Raffles telah mengusahakan banyak hal. Selain dikenal membikin kebijakan yang memihak kaum pribumi, Raffles juga memenuhi keinginan para opsir pasukannya dengan membuat panggung pentas di Weltevreden (sekarang Lapangan Banteng) yang terbuat dari bambu. Kapasitasnya 250 penonton. Walaupun sebagian penduduk Eropa mencibir teater bambu, namun Raffles tidak menggugah minatnya untuk tetap menonton pertunjukan sandiwara.

Pada 1816 Belanda menghela kekuasaan Inggris. Kepemilikan teater bambu jatuh ke tangan kelompok sandiwara amatir yang tenar saat itu bernama Ut desint. Setelah sukses mementaskan beberapa sandiwara, muncul bermacam pendapat yang menginginkan agar teater bambu dihilangkan, diganti dengan gedung kesenian baru yang dibuat batu. Sebagian warga Batavia setuju untuk menyumbang uang, sedangkan sisanya didapat dari pinjaman.

Pembangunan gedung pentas dimulai pada 1820 mengambil lokasi di Noordwijk (sekarang Jl. Ir. H Djuanda). Arsiteknya bernama Lie Atjiet dan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu Baron van der Capellen. Setahun kemudian, 7 Desember 1821, resmi dibuka, diberi nama Stadschouwburg atawa Gedung Sandiwara Kota.

Karena letaknya tepat di mulut sebelah selatan Pasar Baru, ia juga dikenal sebagai Gedung Kesenian Pasar Baru. Waktu itu tata ruangnya masih agak suram, para pria dan wanita harus duduk terpisah. Setelah mengalami beberapa kali renovasi, Schouwburg dibuka secara permanen pada 1831.

Dimulai 1833, Schouwburg hiruk dengan kedatangan rombongan sandiwara dari Prancis.
Pertunjukan berlangsung 2 bulan penuh. Pada 1835 rombongan sandiwara dari luarnegeri mulai berdatangan ke Batavia. Diperkenalkan pertunjukkan yang melibatkan aktor perempuan.

Pelan tapi pasti Schouwburg mulai dikenal di Eropa. Ia menjadi pusat persinggahan kelompok kesenian dari berbagai belahan dunia, dari Prancis, Jerman, Rusia hingga Italia. Schouwburg pun menjadi tempat eksklusif agenda pilihan kesenian warga kota Batavia.

Ketika perkumpulan sandiwara orang Belanda mengalami kelemahan akting dan kesulitan membayar pemain, Residen van Rees mengambil alih pengelolaan Schouwburg pada 1846. Sistim manajemen diperbaiki dan utang yang menumpuk kepada pihak swasta pun dibayar.

Pada 1894 didirikanlah kelompok Opera Batavia sebagai tuanrumah Schouwburg. Pimpinannya adalah Isidore von Kinsbergen, seorang penyanyi opera dan pelukis dekor. Oleh Residen ia diberi tanggungjawab mengontrak perkumpulan sandiwara Eropa. Pada 1875 bersama wartawan Conrad Busken Huet, Isidore menerbitkan majalah ‘La Lorgnette, journal artistique et litterair, francohollandais’ untuk pengunjung Schouwburg.
Setelah undang-undang baru pembaharuan kota Batavia pada 1905, pemerintah kotapraja mengambilalih manajemen Schouwburg.

Jepang menggantikan kekuasaan Belanda pada 1942, yang berdampak juga pada nasib Schouwburg. Mulanya ia diganti nama menjadi Kiritsu Gekitzyoo, seiring itu ia pun beralih fungsi, dijadikan sebagai markas tentara.

Pada masa kemerdekaan difungsikan sebagai ruang kuliah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Hukum Universitas Indonesia. Sempat dinamakan Municipal Theatre atau lebih populer ”Gedung Komidi”. Juga pernah disewa pengusaha Tionghoa dijadikan bioskop bernama Dana yang memutar film-film kungfu. Pernah juga dinamai City Theatre.

Setelah mengalami pasang-surut yang begitu cepat akibat revolusi dan dibiarkan terlunta hampir 42 tahun pada masa kemerdekaan, 5 September 1987 adalah fase awal yang menjanjikan. Setelah direnovasi ia dikembalikan sebagaimana bentuk awalnya menjadi gedung teater, diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta ke-9 R. Soeprapto, bernama Gedung Kesenian Jakarta.

Tanggal itu dijadikan sebagai hari ulangtahun GKJ dan momen Festival Schouwburg. Diretas kali pertama pada 1993, mengambil tema “Napak tilas perjalanan sejarah Gedung Kesenian Jakarta sejak jaman kolonial Belanda hingga kini”. Kali keduanya pada 1996, lalu terhenti akibat krisis moneter.

Mulai bergeliat lagi pada 2003, mengetengahkan pergelaran seni klasik dan tradisi. Sejak itu digelar saban tahun. Hingga 2006 ini pada ulangtahunnya yang ke-19, sudah enam kali festival ini digelar.
”Festival ini,” ucap Direktur GKJ Marusya Nainggolan, ”merupakan salah satu wujud peran nyata GKJ dalam kesenian.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: