Kesahajaan Masjid Angke Al-Anwar

Datanglah ke Masjid Al-Anwar atau biasa disebut juga Masjid Angke.
Dipastikan, Anda akan merasakan kebersahajaan yang lembut di sini. Damai. Menenangkan.
Terletak di selatan Jalan Pangeran Tubagus Angke, beberapa meter setelah melewati jalur kereta api, kita bisa menemukan masjid tersebut. Ini dipermudah dengan papan keterangan masjid yang dipasang di kepala atap gapura di mulut gang. Ada juga satu gantungan papan di belakangnya yang berisi keterangan sebuah situs makam di komplek Masjid Angke.

Sejarawan dari Belanda Dr de Haan dalam bukunya Oud Batavia menyebut Masjid Al-Anwar ini didirikan pada Kamis, 26 Sya’ban 1174 H atau bertepatan 2 April 1761 M. Ia didirikan oleh seorang wanita keturunan Cina Muslim kaya dari Tartar yang menikah dengan pangeran dari Banten.Sementara kampung masjid tersebut dulunya bernama Kampung Goesti yang dihuni orang Bali di bawah pimpinan Kapten Goesti Ketut Badudu.

Dalam Historical Sights of Jakarta, sejarawan asal Jerman Heuken menulis bahwa kampung itu didirikan pada 1709. Banyak orang Bali tinggal di Batavia. Tenaga mereka dijual sebagai budak, yang lain masuk dinas militer karena begitu mahir menggunakan tombak, dan sisanya lagi datang dengan sukarela untuk bercocok padi.
”Selama puluhan tahun,” tulis Heuken, ”orang-orang Bali ini menjadi kelompok terbesar kedua di antara penduduk Batavia.”

Sekarang Masjid Angke berada di tengahtengah perkampungan Rawa Bebek yang padat. Ia terletak persis di sisi barat ujung gang. Menurut Haji Ahmad Supriyatna, kepala pengurus masjid ini, luas tanah Masjid Angke sekarang sekitar 930 meter persegi. Luas lahan ini untuk keseluruhanbangunan masjid setelah mengalami pelebaran. Sementara luas bangunan induknya yang asli 13×13 meter persegi.

Meski kini sudah mengalami pelebaran, tetap saja ia tampak mungil jika dibandingkan dengan masjid-masjid modern di Ibukota ini. Toh, meskipun begitu, kemungilan bukan berarti kerdil.
Masjid ini telah menyejarah. Bersama masjid-masjid tua yang bersebaran di Jakarta Utara dan Barat, Masjid Angke adalah sebuah situs ibadah yang khas dan unik sekaligus tempat ziarah perjuangan bagi orang-orang jaman dulu.

Makam-makam tua adalah buktinya. Di halaman belakang masjid, nisan-nisan itu terbaring secara berkelompok maupun sendiri-sendiri. Ada yang tak semuanya dikenal. Yang mencolok di antaranya sebuah makam yang dipagar besi, diberi atap dan ditutupi kelambu hijau. Sebuah papan di atasnya bertulis Syekh Ja’far.

Menurut Haji Ahmad, ia masih keturunan kesultanan Banten. Ada juga petunjuk papan makam Sarifah Mariyam dan Pangeran Tubagus Anjani. Entah siapa mereka ini. Pun sebuah makam seorang wanita keturunan Cina yang telah masuk Islam.

Yang paling terkenal adalah tempat pembaringan penghabisan Syekh Syarif Hamid Al Qadri yang berada di luar pagar depan masjid yang dibatasi jalan kampung. Nisan inilah yang dirujuk pada papan keterangan di gapura di mulut gang. Syekh Syarif ini adalah putra Sultan Pontianak Pangeran Hamid Al-Qadri.
Pada sekitar 1800-an ia mengadakan pemberontakan melawan pemerintah Hindia Belanda. Ia ditangkap dan dibuang ke Batavia. Sebelum mangkat ia berpesan bahwa jasadnya disemayamkan dekat Masjid Angke. Jasadnya itu kemudian dikubur dengan makam dari batu pualam.

Kini makam tersebut dilapisi marmer putih dan ditutup kain kuning serta dikelilingi pagar. Epigraf arab latin di sudut makam menuliskan keterangan mangkatnya: 64 tahun lebih 35 hari tahun 1854.
Sewaktu saya menghampirinya, di suatu malam Jumat selepas Maghrib, beberapa orang tengah khidmat bersila di sekitar makamnya. Halaman Al-quran yang sudah lapuk dibuka lembar demi lembar. Tak ada suara dari mulut mereka. Rasanya, ada halhal tertentu yang tak bisa kita jelaskan. Tak semuanya dalam hidup bisa kita terangkan dengan gampang. Tak semudah kita membalikkan telapak tangan.

Itu adalah malam Jumat setelah kemarin perayaan ulangtahun masjid yang ke-253 tahun Hijriah. Saya datang sebelum mengetahuinya. Ada kebetulan yang tak terduga yang bikin saya kecewa. Tapi setelah berkenalan dengan Haji Ahmad, semuanya lenyap dan berganti dengan keakraban, percakapan yang hangat, juga kesederhanaan.

Haji Ahmad ini sosok yang menyenangkan. Kita mungkin tak mengira bahwa usianya sudah 71 tahun. Anaknya delapan. Cucunya 21. Dan satu cucunya telah memberinya satu cicit. ”Itu semua,” katanya pada saya sambil tersenyum, ”adalah karunia.”

”Ini,” kata Ahmad sembari tangannya menunjuk dada. ”Ini obatnya. Hati. Jangan pernah menyakiti orang lain.” Nada suaranya penuh tekanan tapi akrab. Tertawa.
Ahmad lahir bukan di sekitar Kampung Rawa Bebek. Ia asli Banten, tepatnya di Kampung Baros, sekitar 14 kilometer dari kota Serang. Perkenalannya dengan Masjid Angke dimulai ketika ia berusia muda.

Ia mengingatnya saat itu tahun 1958, mengajar Sekolah Rakyat di sekitar sini, dan menikah dengan salah satu muridnya. Istrinya adalah anak Muhammad Ali. Sang mertua rupanya pemimpin imam Masjid Angke ini. Ahmad yang kemudian meneruskan tongkat estafet kepemimpinan. Jadilah sekarang ia generasi kelima dari kepala pengurus masjid ini.

”Saya sudah menyiapkannya dari sekarang,” kata Ahmad merujuk siapa nanti yang memimpin Masjid Angke.
”Salah satu anak bapak?”
”Bukan. Saya tak mau. Saya bukan orang seperti itu. Ada beberapa dari pengurus masjid ini. Saya sudah tua…,” Ahmad terkekeh.

Masjid tua, kepala pengurusnya pun sudah tua.
Bagaimana Anda menjelaskan ini? Meski Masjid Angke ini termasuk salah satu cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang, saya kira tanpa Haji Ahmad dan orang-orang kampung di sekitarnya, ia bisa-bisa lapuk dan lumat. Setidak-tidaknya mereka telah semampunya menyemarakkan kehidupan masjid dari usia tua yang rawan.

Maka, datanglah dulu ke sini. Anda resapkan sendiri. Merasakan geletar hubungan-hubungan yang rapat dan akrab antara masjid dan jemaahnya. Atau dalam kata-kata Haji Ahmad sebelum saya pamit, datanglah kapan-kapan. Berbuka puasa di sini. Ramai. Banyak orang… [FAHRI]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: