Kring kring kring ada sepeda
10 April 2008 — bataviaseHari ini banyak keprihatinan. Dari ulah DPR - DPRD (menyerobot jalur busway, kasus slankers, suap, selingkuh, timbunan senjata), ribut partai dan calon partai hingga gembok celana. Pasti sudah banyak komentar.
Tulisan ini tidak ke sana, hanya ungkapan kekecewaan atas keputusan Pemerintah untuk membangun lagi jalan tol-dalam-kota.
Disebut-sebut bahwa setiap hari beraktivitas di Jakarta asekitar 3.500.000 kendaraan bermotor. Dalam kemacetan, kendaraan rodaempat menghabiskan sekitar 5 liter BBM, sedangkan rodadua 1 liter. Misal dari 3,5juta itu dua juta rodaempat dan 1,5 juta rodadua, maka kendaraan Jakarta menghabiskan 2×5 + 1,5×2 = 13 juta liter BBM. Setiap hari…
Misal lagi, 1/3 dari mereka beralih ke sepeda, maka kita akan menghemat lebih 4 juta liter BBM. Setiap hari…
Belum dihitung penghematan yang dicapai oleh duapertiga pengendara sisanya, karena untuk setiap pengurangan kemacetan ada pengurangan pemborosan bahanbakar.
Ada kelebihan lain dari sepeda, karena tidak menggunakan bahan bakar, maka sepeda tidak mengemisikan gas beracun dan gas yang mengakibatkan pemanasan global. Polusi berkurang, kita menghirup udara yang agak lebih bersih.
Maka sepeda memberi kontribusi pada kesehatan kota dan individu. Ini dipertegas lagi dengan manfaat dari pergerakan tubuh, olahraga.
Ketiga kelebihan yang tak terbantahkan itu disebut oleh Presiden saat mengantar rombongan Bicycle for Earth Goes to Bali pada 11 November 2007.
Kelebihan lainnya lagi: siapa saja —kaya miskin, pria wanita, tua muda— bisa bersepeda. Tersedia beragam jenis sepeda untuk semua, dari harga ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Buat yang kuatir, jika bersepeda digolongkan sebagai orang tak mampu, gunakan saja sepeda yang harganya 30juta. Terlalu mahal? Coba di pasar Rumput. Bukan, bukan untuk membeli rumput untuk bahanbakar kuda tunggangan. Tapi di sana ada ratusan, bahkan bisa jadi ada seribu-duaribu sepeda bekas, jika mujur bisa dapat sepeda murah dengan kondisi 90% baru. Read the rest of this entry »






Kembali ke lapt… eh, pedestrian.
Meski tradisinya kita yang punya, tapi yang mampu melihat nilainya hanya mereka yang tidak punya. Tak heran jika program naik becak keliling kota lebih banyak ada di luar negeri. Ini becak-becak di Heidelberg, Jerman. Ada juga di Perancis, Amerika, Australia…
141 negara menyetujui 
Minggu depan di jalan-jalan Jakarta akan bertambah alat transportasi baru. Taxi yang bisa menampung hingga 10 orang. Maxicab namanya.
Gubernur bilang, supaya orang-orang Menteng, Pondok Indah, dan sekelasnya bisa meninggalkan mobil pribadinya di rumah. Mungkin untuk mengurangi porsi kendaraan pribadi di kemacetan Jakarta, meski hanya dengan jumlah lima unit maxicab dulu. Bertahap nanti akan menjadi 200 unit.
Belasan tahun lalu, di pusat informasi turis di Jakarta Theater, seorang Jerman menggeleng-geleng melihat bajaj melintas: “itu kendaraan beracun kenapa diizinkan? Tahu gak, asapnya itu bikin bodoh otak anak-anak.“
Meski sudah bisa mengemudi sebelum memiliki SIM, dulu saya mengikuti sekolah mengemudi. Di sana tidak langsung diberi pelajaran mengemudi. Teori dan tanda lalulintas harus dikuasai lebih dulu, setelah lulus test baru bisa mengikuti praktek mengemudi. Seingat saya dalam test yang berlembar-lembar itu ada 100 soal. Sebagian besar berupa gambar tanda lalulintas dan diagram situasi seperti contoh ini. Jawaban dipilih antara 5 hingga 10 kemungkinan yang dicantumkan. Untuk gambar-gambar situasi, dijawab dengan menyusun pilihan-pilihan itu dalam urutan yang benar: kendaraan mana yang memiliki proritas untuk jalan lebih dulu.












