CommuniNation di bulan Kebangsaan

Ini sebuah lukisan karya Galam Zulkifli, sebuah potret wajah dari dua tokoh di era yang sama, lahir di tahun yang sama: 1889, di bulan yang sama: April (16 dan 20), namun memiliki kepribadian amat sangat berbeda.

Sosok yang separuh sukses dalam memanfaatkan pengaruh suara, sementara separuh yang lain berjaya dalam gerak bisu. Dan sejarah membuat separuh menyiratkan kekejaman, separuh lagi memancing gelak tawa.

Chaplin mengungkapkan kesannya saat pertamakali melihat kartupos bergambar Hitler di tahun 1930an :

The face was extremely comic–a bad imitation of me, with its absurd mustache, unruly, stringy hair and disgusting, thin little mouth. I could not take Hitler seriously.
Each postcard showed a different posture of him: one with his hands clawlike, haranguing the crowds, another with one arm up and the other down, like a cricketer about to bowl….”This is a nut!” I thought.
But when Einstein and Thomas Mann were forced to leave Germany, this face of Hitler was no longer comic but sinister.

Ia pun bepikir, orang-orang seharusnya menertawakan, bukan mengagumi Hitler. Filmnya “The Great Dictator” mulai dibuat dua tahun sebelum Inggris dan Jerman menyatakan perang. Dan film beredar pada 1940, ketika dunia berada di ambang perang dunia. Chaplin menebar pesan-pesan kemanusiaan agar menjaga kewarasan dan kepedulian terhadap sesama.

Simaklah pidatonya di film itu, betapa kondisi kemanusiaan kita secara umum masih seperti yang dicerca seorang Charlie Chaplin 70 tahun lalu…
Potret-potret di Hari Buruh dan Hari Pendidikan yang ditampilkan media massa kemarin lebih dari cukup mewakili gambaran umum pemahaman yang dipegang oleh orang-orang yang bertanggungjawab.

Kita bisa mencerna Chaplin dan Hitler dari berbagai sisi. Kita juga bisa melihat Hitler sebagai gambaran keberhasilan communication tentang nation yang cenderung chauvinistic —menganggap bangsanya paling superior. Sementara Charlie Chaplin mewakili keberhasilan communication yang mudah diterima melampui batas-batas kultur nation membentuk community tersendiri.

Otonomi daerah dan globalisasi adalah dua tantangan besar yang amat berbeda namun hadir berbarengan mengintai kuda-kuda dan jurus yang akan dipakai Indonesia. Barangkali jurus terbaik adalah memanfaatkan kekuatan penantang, dipadu dengan kelebihan dan karakteristik yang dimiliki, menciptakan matarantai yang saling bertaut.
CommuniNation-kah?

Berbagai komunitas kini bertebaran di tanah air, melintasi batas, ras, agama, apa pun. Ada yang mengakar pada bumi yang dipijak, banyak juga yang tidak. Kekuatan bangsa kini agaknya bertumpu pada komunitas. Kita tidak bisa lagi berharap akan adanya kekuatan individu seperti Bung Karno atau Hitler. Tidak bsa juga pada satu partai politik.
CommuniNation.
Bagaimana menjalin segala perbedaan dalam satu rantaian yang kuat?
Masih ingatkah kita akan Pancasila. Dan nilai-nilainya?

Read the rest of this entry »

Mata Hari. Mata-mata atau penari?

Kisah hidupnya berubah-ubah sepanjang 100 tahun.

Matahari pagi itu muncul jam 06.11.
Semua yang hadir mengenakan mantel tebal,
menahan dinginnya pagi Oktober 1917.

“Ce n’est pas nécessaire“ tolaknya dengan nada dan gaya seorang Lady,
saat sang komandan regu menawarkan penutup mata.

Jam 06.15 duabelas tembakan mengelegar.
Mata Hari tak ada lagi.

Duabelas tahun sebelumnya, 13 Maret 1905, ia dikerumuni penggemar dan wartawan. Performansi tarinya di Museum Guimet, Paris, merupakan inovasi yang menghebohkan kalangan elite Paris. Berlatar patung Dewa Shiwa, terbalut dalam kostum mirip wayang, ia menari setengah telanjang.
Sang penari bercerita bahwa namanya Mata Hari, dari bahasa Sansekerta diterjemahkan sebagai “the eye of the dawn”. Bahwa dirinya berasal dari India Selatan, dari keluarga kasta Brahma, bahwa sejak kecil dirinya dididik untuk menari di candi Shiwa. Bahwa tari-tarian yang tak pernah dipertunjukkan di luar candi adalah keahliannya.
Read the rest of this entry »

Kisah Panon Hideung

Panon Hideung, “lagu rakyat Sunda”, lumayan populer di dunia. Tampil asli di film Eastern Promises karya David Cronenberg (2007)), dibawakan gitaris Django Reinhardt (2005) dalam aransemen jazz, atau dalam dentingan bouzouki yang begitu memukau dipetik pakarnya, John Stamatiou Sporos, dan banyak lagi.

Panon hideung pipi koneng [Mata hitam pipi kuning]
Irung mancung Putri Bandung [Hidung mancung putri Bandung]
Putri saha di mana bumina [Anak siapa di mana rumahnya]
Abbi reseup kaanjeunna [Aku suka padanya]
Siang wengi kaimpi-impi [Siang malam terimpi-impi]
Hate abdi sara redih [Hatiku merasa sedih]
Teuemut dahar [Lupa makan]
Teuemut nginum [Lupa minum]
Emut kanu geulis [Ingat pada si cantik]
Panon Hideung [Mata hitam]

Ismail Marzuki, komposer nasional asal Betawi, menulis lirik di atas sekitar tahun 1936-1937. Pada masa itu Ma’ing —begitu ia dipanggil— dan orkesnya, diminta mengisi acara radio di Bandung di segmen lagu-lagu Barat.

Itulah masa-masa saat ia mempelajari dan menguasai komposisi lagu-lagu barat dan lagu tradisional. Banyak lagu Barat yang digubah dan diterjemahkan. Salah satunya adalah Ochi Chyornye (Mata Hitam - Panon Hideung), berkat bantuan Zarkov, seniman asal Rusia yang tinggal di Bandung.
Sebagai informasi, jaman dulu memang banyak seniman asal Rusia berkarya di sini, ada orkes asal Rusia yang tampil reguler di Hotel Des Indes selama 10 tahun, atau di Surabaya ada Pedro (atau Pyotr=Peter), sang pendiri teater Dardanella yang legendaris.

Saat itu, Ma’ing berjumpa dan jatuh cinta pada mojang Parahiayangan yang sangat cantik —sesuai dengan fotonya di bawah ini— Miss Eulis. Read the rest of this entry »

Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin

Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B Jassin merupakan suatu lembaga nirlaba yang salah satu tugasnya adalah mendokumentasikan hasil cipta sastra bangsa Indonesia.

Berlokasi di dalam Taman Ismail Marzuki (TIM), gedung di lantai dua itu terletak di belakang Planetarium. Setiap hari dikunjungi sekitar 30 orang, yang sebagian besar adalah pelajar SMA, selain mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi atau peneliti sastra Indonesia dari dalam dan luar negeri.

Menjelang sore hari, beberapa penyair dan pengarang berkumpul untuk berdiskusi atau mendampingi Endo Senggono, Kepala Perpustakaan PDS H.B Jassin yang kerap menerima rombongan siswa dan mahasiswa dari beberapa daerah di Indonesia yang melakukan studi banding dan jumpa dengan
sastrawan. Setiap tahun PDS H.B Jassin menerima sekitar 30 rombongan. Setiap rombongan terdiri dari 50-200 orang. Read the rest of this entry »

Sulistyo Tirtokusumo dan hak asasi penganut Kepercayaan

Pengikut organisasi penghayat kepercayaan pada masa pasca orde baru ternyata bertambah besar. Sulistyo Tirtokusumo, Direktur Direktorat Kepercayaan, berusaha memperjuangkan hak asasi mereka

Tak banyak yang tahu penari dan koreografer kenamamaan Indonesia, Sulistyo Tirtokusumo kini menjabat sebagai Direktur Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (TYME).

Sulistyo yang baru sukses mementaskan karya tarinya: Panji Sepuh bersama Goenawan Mohammad di Singapura itu kini sibuk mendata persoalan-persoalan yang dihadapi para penghayat . Ia mencatat sampai tahun 2006 pengikut kepercayaan di Indonesia berjumlah sekitar 8.5 juta.
Menurutnya penghayat kepercayaan di Indonesia terdiri 3 jenis. Pertama penghayat kepercayaan yang beragama dan menjalankan syariat agama secara lengkap.. Kedua, penghayat yang di dalam KTPnya memeluk satu agama tapi perilaku sehari-harinya melakukan penghayatan menurut ajaran masing-masing. Ketiga, penghayat murni, yang tidak memeluk agama tertentu dan hanya berpegang pada organisasi penghayat.

Read the rest of this entry »

Hari ini 28 tahun lalu…

Jumat 14 Maret 1980. Salah seorang founding fathers kita menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 18.45.
Bung Hatta
wafat, dikelilingi ketiga puterinya, Meutia, Gemala dan Halida serta sang isteri, Ibu Rachmi Hatta, dan sekretaris Almarhum sejak tahun 1942, bernama Wangsa.

Kerumah Bung Hatta di jalan Diponegoro, selain Presiden Soeharto, Ibu Fatmawati, Buya Hamka dan tokoh-tokoh lainnya, juga melayat para abang becak, tukang sayur, penjaja makanan keliling, untuk kali terakhir menatap wajah Sang Proklamator dan memberi penghormatan terakhir.

DR. Roeslan Abdulgani menyebut Bung Hatta sebagai ‘The Guardian of National Conscience’, penjaga hati nurani nasional bangsa Indonesia, yang sampai sekarang ini belum ada duanya. Bung Hatta berani menggugat siapapun kalau ia merasakan bahwa ada penyimpangan. Read the rest of this entry »

Inna lillahi wa inna illaihi rajiun

Telah meninggal dunia Presiden RI ke-2, HM Soeharto, pada hari ini pukul 13.10.
Semoga segala amal kebajikan dan ibadahnya diterima oleh Yang Maha Pengasih, segala dosa dan kesalahannya diampuni oleh Yang Maha Pengampun, kerabat dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Amin.

Pemerintah mengumumkan 7 hari berkabung, untuk itu marilah selama 7 hari itu kita sisihkan dulu segala kontroversi dan hanya membicarakan kebaikan almarhum, terutama kita yang tidak pernah mengalami sendiri secara langsung kebaikan atau keburukan almarhum.

Mari kita terima juga segala prosedur dan langkah Pemerintah sebagai peringatan akan perlunya standar prosedur layanan Pemerintah terhadap para mantan presiden.

Posted in sosok. No Comments »

Polemik Pers Kebangsaan

Seabad Pers Kebangsaan ternyata menimbulkan polemik antara Andreas Harsono dari Yayasan Pantau dengan Zen R. Soegito dan Muhidn M. Dahlan dari Indexpress. Berikut ini klipingnya.

Guna memudahkan pembaca, semua tulisan disalin ulang tanpa perubahan teks, hanya dibubuhi BOLD, ITALIC, BLOCK QUOTE dan kosmetika lainnya. Ada link ke tulisan aslinya. Triggernya pada 6 Juni 2007 berada di akhir posting ini, tulisan dan tanggapan berikutnya ditambahkan di atasnya —urutan terbalik, dari terbaru hingga awal polemik.

Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari suatu polemik. Silahkan menyimak.

———

Tuesday, November 27, 2007
“Ngobrol” dengan Mas Tirto dan Pramoedya

:: tanggapan terakhir untuk andreas harsono dari yayasan pantau

Tadi malam saya menggelar ritus jelangkung. Saya merapal mantra dalam sebuah genisa al-kitabiah: “Jelangkung jalangse… datang tak dijemput pulang tak diantar. Hwarkadalah Hoooo…..”

Dengan kemurahan hati, mereka kini mau keluar dari pendiangan mereka masing-masing. Ada tiga yang segera meloncat di meja bulat-tidak persegi-juga-tidak setelah namanya saya sebut tiga kali: “Mas Tirto” (Tirtoadisoerjo), Bung Pram (Pramoedya Ananta Toer) dan Gus Durrahman (Abdurrachman Surjomihardjo).

Saya pun langsung keluarkan secarik surat terakhir dari Andreas Harsono (selanjutnya ditulis “Kritikus Kita“): “Pers, Sejarah dan Rasialisme by Andreas Harsono”.

“Mas Tirto, Bung Pram, Gus Durrahman kenal penulisnya?” tanya saya. Mas Tirto melihat kertas itu dan menggeleng. Bung Pram hanya merogoh kantong dan menyalakan sebatang kretek. Adapun Gus Durrahman malah mendongakkan kepala. Read the rest of this entry »

Saatnya untuk berbenah

Saat mewarisi jabatan, lebih separuh kota terdiri dari pemukiman ilegal dan kumuh. Mobil parkir sembarangan. Fungsi trotoar diambil alih oleh kendaraan. Jalan-jalan di pinggir kota tidak memiliki trotoar, di sana 20% dari 7 juta penduduknya tinggal. Komentar yang sering ia dengar saat berkampanye: Tempat ini begitu kacau. Tidak akan ada yang mampu membereskannya.”

Enrique Peñalosa [enrike penyalosa] hanya dalam tiga tahun berhasil menatanya sehingga menjadi model bagi kota lain. Mendidik penduduknya hingga memiliki kepedulian dan sense of belonging, bahkan menumbuhkan rasa kebanggaan. Sistem transportasinya pun menjadi model bagi Jakarta.
Bagaimana sepak terjangnya?

Resep pertama: making a city that would show RESPECT for human dignity. Mengembangkan kota yang menunjukkan penghormatan pada hargadiri manusia. Suatu pendekatan yang amat luarbiasa. Teramat langka di Jakarta. Read the rest of this entry »