Televisi menebar kerusuhan dan perilaku negatif

Judul yang provokatif memang. Maaf, ini karena rasa prihatin dan was-was yang sudah memuncak. Beberapa hari belakangan ini di layar kaca semakin sering ditonjolkan aksi-aksi demo kekerasan, dan seperti biasa: lengkap, sangat detil, dan berulangkali ditayangkan. Seakan mengajarkan pada masyarakat ala buku panduan yang berembel-embel HOW TO.

Meski tidak mampu membuktikan, hati kecil yakin sekali bahwa aksi demo dibumbui kekerasan di negeri ini merupakan kontribusi televisi. Juga kekerasan-kekerasan lain di luar demo. Ditayangkan tanpa pandang waktu atau siapa yang menyaksikan. Menyerahkan pada orang rumah untuk menyensor apa yang dilihat anak? Di tengah kesibukan dan stress akibat macet? Di tengah mahalnya hiburan di luar televisi?
Sungguh tidak mungkin. Hanya mereka yang punya uang akan punya peluang untuk memilih kemana moral anak-anaknya diarahkan.

Sadarkah anda bahwa kebebasan informasi sebetulnya hanya dinikmati oleh berita-berita negatif. Berita-berita baik —bahkan panduan moral yang dirindukan jutaan orang— bisa ditenggelamkan oleh infotainment. Read the rest of this entry »

Sulistyo Tirtokusumo dan hak asasi penganut Kepercayaan

Pengikut organisasi penghayat kepercayaan pada masa pasca orde baru ternyata bertambah besar. Sulistyo Tirtokusumo, Direktur Direktorat Kepercayaan, berusaha memperjuangkan hak asasi mereka

Tak banyak yang tahu penari dan koreografer kenamamaan Indonesia, Sulistyo Tirtokusumo kini menjabat sebagai Direktur Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (TYME).

Sulistyo yang baru sukses mementaskan karya tarinya: Panji Sepuh bersama Goenawan Mohammad di Singapura itu kini sibuk mendata persoalan-persoalan yang dihadapi para penghayat . Ia mencatat sampai tahun 2006 pengikut kepercayaan di Indonesia berjumlah sekitar 8.5 juta.
Menurutnya penghayat kepercayaan di Indonesia terdiri 3 jenis. Pertama penghayat kepercayaan yang beragama dan menjalankan syariat agama secara lengkap.. Kedua, penghayat yang di dalam KTPnya memeluk satu agama tapi perilaku sehari-harinya melakukan penghayatan menurut ajaran masing-masing. Ketiga, penghayat murni, yang tidak memeluk agama tertentu dan hanya berpegang pada organisasi penghayat.

Read the rest of this entry »

Gong Xi Fa Cai


Meski sudah dibanjiri dari mana-mana, mudah-mudahan setetes lagi ucapan selamat dari kami bisa turut membantu berlimpahnya berkah di tahun tikus ini. Semoga kebahagiaan kita juga bisa menambah indahnya warna warni kehidupan di sekitar kita.

Organisasi Himpunan Penghayat Kepercayaan

Pada 1950 Mr. Wongsonegoro mempopulerkan Kepercayaan dengan istilah kebatinan. Dan sejak itu ia mulai menggagas sebuah forum nasional untuk mendiskusikan mengenai kebatinan.

Pada tahun 1955 ia mempelopori Konggres Kebatinan berskala nasional yang diselenggarakan di Semarang selama tiga hari, 19-12 Agustus 1950. Kongres itu dihadiri 70 aliran yang ada di Indonesia dan melahirkan sebuah organisasi bernama Badan Konggres Kebatinan Indonesia (BKKI). Mr. Wongsonegoro duduk sebagai ketuanya.

Konggres pertama itu menjadi titik awal perkembangan mengenai organisasi kepercayaan. Dari pandangan soal kebatinan, yang bukan klenik, yang tak bertentangan dengan agama dan bukan agama baru, yang mendukung asas Pancasila, sampai masuknya organisasi ke struktur pemerintahan negara. Dan organisasi Kepercayaannya pun berubah-ubah bentuk dan namanya. Nama konggres pun berganti menjadi munas, musyawarah nasional.

Di Yogyakarta pada 27-30 Desember 1970 digelar Musyawarah Nasional Kepercayaan dengan melahirkan wadah baru bagi penghayat kepercayaan, yaitu Sekretariat Kerjasama Kepercayaan (SKK). Selain itu terbentuk delegasi Munas Kepercayaan yang dipimpin Mr. Wongsonegoro untuk memperjuangkan legalitas Kepercayaan.

Delegasi ini menemui Presiden Soeharto, yang kemudian kepercayaan diakui di Indonesia.
Pada 1973 MPR menetapkan Kepercayaan (Terhadap Tuhan Yang Maha Esa) diakui oleh negara disamping agama.Pada 1973 Munas ketiga Kepercayaan digelar di Tawangmangu, Solo. Hasilnya, organisasi kepercayaan SKK diganti menjadi HPK (Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa). Organisasi HPK ini yang sampai sekarang menaungi dan memperjuangkan kepentingan kelompok-kelompok penghayat kepercayaan di seluruh nusantara.

Perhatian pada Kepercayaan semakin besar diakui di negeri ini ketika Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 1978 menetapkan pembentukan Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dibawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Arymurty, Sekjen HPK menjadi Direktur pertama di Direktorat Kepercayaan TYME. Dan sekarang Direktorat Kepercayaan di bawah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, direkturnya Sulistyo Tirtokusumo, seorang penari yang pernah menciptakan tari bedhya: Bedhaya Suryasumirat untuk Puro Mangkunegaran, Solo. [BASIL]

Tulisan terkait: Sulistyo Ttirtokusumo dan hak asasi penganut kepercayaan

Yes, Virginia…

03d-santa.jpg

Redaksi harian Sun, New York, terhenyak. Surat di atas berbunyi:

Redaksi yth,
Usia saya delapan tahun. Teman-teman bilang Santa Claus itu tidak ada. Papa bilang ada kalau di koran The Sun ada. Tolong katakan sejujurnya, apakah Santa Claus itu ada?

Virginia O’Hanlon.
115 West Ninety-fifth Street.

Sang redaktur, Francis Pharcellus Church, pun terinspirasi dan menjawab dalam bentuk editorial, dimuat esoknya, 21 September 1897 :
“Yes Virginia, there is a Santa Claus…”

Inilah editorial yang paling sering dicetak ulang sepanjang seratus sepuluh tahun ini. Ia muncul dalam berbagai bahasa —sepotong mau pun utuh— dalam editorial lain mau pun dalam berbagai jenis media: buku, poster, perangko, lagu, sandiwara, film…

Sementara Virginia O’Hanlon sendiri tumbuh dan besar di Greenwich Village di Manhattan, New Tork. Ia berkarir dalam dunia pendidikan selama 47 tahun, mengajar dan menjadi kepala sekolah.
Virginia wafat pada 13 Mei 1971 di usia 81 tahun. Di sepanjang hidupnya selalu saja ada yang bertanya, masihkah ia percaya akan keberadaan Santa Claus.
[FINDAGRAVE.COM, TIME ARCHIVES, WIKIPEDIA]

Teks asli edtorial tersohor itu:

We take pleasure in answering at once and thus prominently the communication below, expressing at the same time our great gratification that its faithful author is numbered among the friends of The Sun:

Dear Editor!
I am 8 years old. Some of my little friends say there is no Santa Claus. Papa says, “If you see it in The Sun it’s so.” Please tell me the truth: Is there a Santa Claus?
Virginia O’Hanlon
115 West Ninety-Fifth Street

Virginia, your little friends are wrong. They have been affected by the skepticism of a skeptical age. They do not believe except they see. They think that nothing can be which is not comprehensible by their little minds. All minds, Virginia, whether they be men’s or children’s, are little. In this great universe of ours man is a mere insect, an ant, in his intellect, as compared with the boundless world about him, as measured by the intelligence capable of grasping the whole of truth and knowledge.

Yes, Virginia, there is a Santa Claus. He exists as certainly as love and generosity and devotion exist, and you know that they abound and give your life its highest beauty and joy. Alas! how dreary would be the world if there were no Santa Claus. It would be as dreary as if there were no Virginias.

There would be no childlike faith then, no poetry, no romance to make tolerable this existence. We should have no enjoyment, except in sense and sight. The eternal life with which childhood fills the world would be extinguished.

Not believe in Santa Claus! You might as well not believe in fairies! You might get your papa to hire men to watch in all the chimneys on Christmas Eve to catch Santa Claus, but even if they did not see Santa Claus coming down, what would that prove? Nobody sees Santa Claus, but that is no sign that there is no Santa Claus. The most real things in the world are those that neither children nor men can see. Did you ever see fairies dancing on the lawn? Of course not, but that’s no proof that they are not there. Nobody can conceive or imagine all the wonders there are unseen and unseeable in the world.

You may tear apart the baby’s rattle and see what makes the noise inside, but there is a veil covering the unseen world which not the strongest man, nor even the united strength of all the strongest men that ever lived, could tear apart. Only faith, fancy, poetry, love, romance, can push aside that curtain and view and picture the supernatural beauty and glory beyond. Is it all real? Ah, Virginia, in all this world there is nothing else real and abiding.

No Santa Claus! Thank God! he lives, and he lives forever. A thousand years from now, Virginia, nay, ten times ten thousand years from now, he will continue to make glad the heart of childhood.

Ustad Zakir Hussain

Tak peduli keringatnya menetes terus, Pandit Vikku Vinayakram selama dua jam penuh memukul ghatam dengan semangat. Instrumen perkusi tradisional India itu berbentuk seperti kendi. Ditabuh di leher dan bagian cembung perutnya. Suaranya nyaring, keras, menggigit, dinamik.

Malam itu termasuk salah satu tontonan yang paling mengesankan di Taman Ismail Marzuki. Terutama mungkin bagi pecinta jazz rock yang sempat hadir. Vikku dikenal seorang pioner musisi tradisional India yang mengharubirukan sejarah jazz rock dunia.
Ia adalah tokoh yang turut ambil bagian membangun genre yang sering disebut ‘ragas rock’.

Malam itu bersama keluarganya, termasuk putra sulungnya Mahesh Vinayakram, ia menghidangkan ansambel ghatam yang super energik. Melihat penampilannya, para penggemar musik pasti membayangkan bagaimana kehebatan Vikku saat masih muda bersama dengan maestro tabla Ustad Zakir Hussain, pemain biola Lakshminarayana Shankar, bergabung dengan gitaris grup jazz rock John Mclaughlin membentuk grup legendaris: Shakti.

Boleh disebut Shakti adalah band lintas batas. Dua orang Hindu. Seorang Islam. Seorang Katolik. Secara musikal pun banyak yang menganggap Shakti merupakan salah satu kolaborasi timur dan barat yang paling berhasil.

Ustad Zakir mewarisi tradisi musik sufistik yang panjang di India. Sejak umur 19 tahun ia pindah ke California dan menjadi arsitek gerakan ‘world music’. Selain dengan Mclaughin, ia pernah bekerjasama dengan drumer Billy Cobham atau basis Jack Bruce.
Tahun 1992, Planet Drum, sebuah album hasil kolaborasinya bersama Mickey Hart, mantan perkusionis band Amerika Grateful Dead, meraih Grammy untuk album World Music terbaik.

Ayah Zakir adalah Ustad Alla Rakha, seorang “raksasa” tabla tersohor asal Jammu. Ustad Alla bersama maestro sitar Ravi Shankar dan pemain sarod Ali Akbar Khan adalah generasi pertama musisi klasik India yang menembus dunia. Kita tahu, Shankar adalah guru George Harisson, anggota The Beatles.

Saya menemukan piringan hitam bekas di loakan jalan Surabaya yang berisi rekaman ketiganya bermain bareng di Philharmonic Hall, New York, Oktober 1972. Pertunjukan langka itu untuk mengenang Ustad Allaudin Khan, guru Shankar dan Akbar yang meninggal di desa kecil di India September 1972. Kedua tokoh itu menyebut Ustad Allaudin sebagai Baba (Ayah). Keduanya menyatakan mengikuti ajaran Baba bahwa musik adalah jalan menuju ilahi.

Memasuki Ramadhan ini, saya teringat bagaimana inovasi-inovasi para musisi India klasik tersebut bisa menjadi semangat spiritual universal. Sebab setiap Ramadhan tiba selama sebulan penuh televisi diserbu lagu-lagu religius, mulai dari Bimbo, nasyid, qasidah, sampai kelompok seperti Debu. Mendadak muncul dai-dai cilik sampai artis-artis yang dengan syahdu mendendangkan lagu-lagu menyiram ruhani. Eksprimentasi mungkin dihindari di situ. Takaran utama pada makna spiritual di situ kebanyakan diukur dengan materi lirik-lirik berunsur dakwah yang sangat menonjol. Tapi sesungguhnya ukuran “religiutas” sebuah musik bukan hanya terletak pada teksnya yang bertema ibadah.

Ismail Farukhi pernah menulis sejatinya ciri khas seni Islami adalah kualitas abstraknya. Desain-desain arabesk misalnya penuh dengan pola-pola rumit, kombinasi-kombinasi suksesif, kekayaan variasi struktur yang mengalir kontinyu.
Desain arabesk menurut Farukhi memburu infinitas yang tidak pernah bisa ditangkap dengan sebuah penglihatan tunggal. Ia harus ditangkap melalui serangkaian pengamatan secara serial. Meskipun ini untuk menerangkan pola senirupa, tapi agaknya bisa dipakai untuk penjelasan bagaimana mendengar komposisikomposisi Shakti.
Simak Happines is Being, Mind Ecology atau Peace Mind dari album Natural Elements.

Antara Mclaughlin, Vikku, Zakir menghasilkan sebuah komposisi instrumental yang tingkat variasi teksturnya demikian tinggi tapi mengalir. Atau sebuah instrumen berdurasi 29 menit dalam album live mereka berjudul What Need Have I For This? What Need Have I For That? I am Dancing at The Feet Of My Lord? All is Bliss-All is Bliss yang menyajikan diskusi rumit panjang antara tabla dan ghatam.

Tuhan tak berbentuk. Hazrat Innayat Khan, seorang sufi India memberi alasan mengapa makin abstrak sebuah karya seni, ia bisa memberi jalan jiwa menggayuh dimensi ilahi. Dan dibanding jenis karya seni lain yang paling mampu mengabstraksikan jiwa adalah musik. Sebab Hazrat melihat hakikat ruh sesungguhnya adalah bunyi.

Ia gemar mengutip kisah rakyat ini: saat Tuhan membentuk patung dari tanah liat menyerupai citra-Nya dan meminta ruh masuk, ruh menolak. Ruh tidak ingin terbelenggu dalam kurungan badan. Lalu Tuhan meminta malaikat memainkan musik. Mendengar musik itu ruh ekstase lalu memasuki tubuh….
Esensi ruh yang bernyanyi menggelorakan vitalitas cinta dan persahabatan lintas agama. Tak mengherankan apabila pukulan tabla Ustad Zakir bisa cocok menjadi soundtrack film Little Budha karya Bernado Bertolluci.

Atau ratapan suara almarhum Nusrat Fateh Ali Khan menjadi latar belakang film Last Temptation of Christ karya Martin Scorsese. Ketika Kristus disalib dalam film itu terdengar jeritan senandung menyayat. Tak banyak yang tahu itu suara Nusrat, biduan Qawali, musik Pakistan yang mengetengahkan lagu-lagu pujian bagi Muhammad.
Tak semua orang memang seperti mereka.

Di India kita tahu sampai kini tetap ada gelombang para fanatik. Novelis Amitav Gosh melihat para bigot itu sering menciptakan masa lalunya sendiri yang berbeda dengan kenyataan. Gosh banyak meneliti toleransi agama dalam sejarah India. Menurutnya banyak penguasa-penguasa Muslim yang memberi dukungan kepada budaya Hindu dan sebaliknya.

Bacalah esai Gosh tentang penguasa India pertama dari kalangan muslim Dinasti Mughal, Zahiruddin Mohamma Babar (1483-1530): Love and War in Afghanistan and Central Asia: The Life of the Emperor Babur. Babar terpesona pada Guru Nanak, seorang pendiri Sikh Hindu, dan bersimpuh dihadapannya. ”Di wajah faqir ini aku melihat wajah Tuhan,” tulisnya di otobiografinya, seperti dikutip Gosh.

Di kita pun terjadi hal yang sama. Toh, saya pernah mengikuti komponis Sutanto Mendut nglayap ke desa Warangan di Lereng Gunung Merbabu. Di situ ada tradisi musik truntung. Ini tambur kecil yang dipukul dengan stick dengan pentul di ujungnya. Truntung ramai dipegelarkan masal bila Saparan dan Tasakuran. Yang menarik para pemain truntung di situ bisa begitu terbuka, bersahabat dan bersemangat menerima tawaran kolaborasi manapun.

Sudah banyak komponis eksprimental dan musisi jazz manca yang “jam session” dengan mereka. “Sinkopasi ketukan truntung tinggi, tajam, mampu berasimilasi dengan jazz manapun,” kata Tanto. Terakhir, pianis jazz dan matematikawan Guerino Mazzola dan drumer Heinz Geisser dari Swiss berkolaborasi dengan mereka untuk keperluan film dokumentasi karya Garin Nugroho.

Ramadhan di Jakarta selalu semarak. Bedug ditabuh bertalu-talu. Macan-macan gambus Kemayoran keluar dari sarangnya. Hadrah Betawi tak lagi terkurung dalam pesta-pesta perkawinan. Tiba-tiba saya memikirkan musik di kala Ramadhan bisa menjadi cermin pencarian kebahagian spiritual bersama… [Wikana]

Masjid Angke. Campuran Cina, Jawa dan Eropa

Arsitektural Masjid Angke memperlihatkan perpaduan unik antara Jawa, Belanda, Bali, dan Cina.
Sisi-sisi arsitektur Jawa dapat ditelusuri dari denah bangunan persegi, bentuk atap tumpang, dan sistem struktur saka guru yang menopang atap dari adonan material beton dan bata pada kolomnya. Untuk Cina, kita bisa menunjuk detail konstruksi pada skur atap bangunan yang bertumpuk macam klenteng.
Ujung-ujung atap bangunannya pun memperlihatkan langgam sama, meski ada pendapat lain
bahwa itu seperti puggel—seni bangunan Bali.

Pada Eropa dapat kita amati pintu yang berukuran tinggitinggi dan besar serta berdaun ganda. Ini berlaku sama dengan jendelanya yang besar dan lebar-lebar. Sementara jeruji kayu ulir di kolom jendela lebih dekat dengan jendela khas rumah tradisional Betawi— umumnya dipakai pada masjidmasjid kuno di Jakarta yang dibangun sekira abad ke-18.

Untuk menunjukkan khas dan uniknya Masjid Angke ini, lihatlah pada elemen mimbar khutbah. Berbentuk ceruk yang lebih mirip seni sculpture, mimbar itu menjadi aksen penting di dalam ruang shalat.
Hiasannya di kedua pinggir cerukan sangat serasi dengan tangga-tangga melingkar dari marmer merah di mulut mimbar. Pola hiasan ini tampak sama terlebih pada pengapit pintu masuk utama di sisi timur dengan gapura berbentuk tertutup.

Elemen lainnya adalah ragam hias macam detail cukilan kayu bercorak fl oral natural dan kaligrafi pada kusen atau pintu utama. Corak itu terdapat juga pada anak-anak tangga pintu masuk utama yang terbuat dari batu-batu candi warna merah. Pun hiasan di pinggir cerukan mimbar dan pipit gantil pada setiap ujung atap bangunan masjid. Kesannya seperti ornamen “emprit gantil” pada rumah-rumah adat Jawa tapi jika detailnya dilihat lebih saksama ia menunjukkan sentuhan Cina.

Masjid Angke juga memiliki mezanin di bawah atap tumpukan. Mezanin ini bisa dicapai dari anak tangga di sebelah selatan pintu masuk sayap timur. Haji Ahmad mengatakan pada saya bahwa ia dulu sering adzan di situ sebelum ada alat pengeras suara dan lampu, bahkan untuk Subuh sekalipun.

Kesahajaan Masjid Angke Al-Anwar

Datanglah ke Masjid Al-Anwar atau biasa disebut juga Masjid Angke.
Dipastikan, Anda akan merasakan kebersahajaan yang lembut di sini. Damai. Menenangkan.
Terletak di selatan Jalan Pangeran Tubagus Angke, beberapa meter setelah melewati jalur kereta api, kita bisa menemukan masjid tersebut. Ini dipermudah dengan papan keterangan masjid yang dipasang di kepala atap gapura di mulut gang. Ada juga satu gantungan papan di belakangnya yang berisi keterangan sebuah situs makam di komplek Masjid Angke.

Sejarawan dari Belanda Dr de Haan dalam bukunya Oud Batavia menyebut Masjid Al-Anwar ini didirikan pada Kamis, 26 Sya’ban 1174 H atau bertepatan 2 April 1761 M. Ia didirikan oleh seorang wanita keturunan Cina Muslim kaya dari Tartar yang menikah dengan pangeran dari Banten.Sementara kampung masjid tersebut dulunya bernama Kampung Goesti yang dihuni orang Bali di bawah pimpinan Kapten Goesti Ketut Badudu.

Dalam Historical Sights of Jakarta, sejarawan asal Jerman Heuken menulis bahwa kampung itu didirikan pada 1709. Banyak orang Bali tinggal di Batavia. Tenaga mereka dijual sebagai budak, yang lain masuk dinas militer karena begitu mahir menggunakan tombak, dan sisanya lagi datang dengan sukarela untuk bercocok padi.
”Selama puluhan tahun,” tulis Heuken, ”orang-orang Bali ini menjadi kelompok terbesar kedua di antara penduduk Batavia.”

Sekarang Masjid Angke berada di tengahtengah perkampungan Rawa Bebek yang padat. Ia terletak persis di sisi barat ujung gang. Menurut Haji Ahmad Supriyatna, kepala pengurus masjid ini, luas tanah Masjid Angke sekarang sekitar 930 meter persegi. Luas lahan ini untuk keseluruhanbangunan masjid setelah mengalami pelebaran. Sementara luas bangunan induknya yang asli 13×13 meter persegi.

Meski kini sudah mengalami pelebaran, tetap saja ia tampak mungil jika dibandingkan dengan masjid-masjid modern di Ibukota ini. Toh, meskipun begitu, kemungilan bukan berarti kerdil.
Masjid ini telah menyejarah. Bersama masjid-masjid tua yang bersebaran di Jakarta Utara dan Barat, Masjid Angke adalah sebuah situs ibadah yang khas dan unik sekaligus tempat ziarah perjuangan bagi orang-orang jaman dulu.

Makam-makam tua adalah buktinya. Di halaman belakang masjid, nisan-nisan itu terbaring secara berkelompok maupun sendiri-sendiri. Ada yang tak semuanya dikenal. Yang mencolok di antaranya sebuah makam yang dipagar besi, diberi atap dan ditutupi kelambu hijau. Sebuah papan di atasnya bertulis Syekh Ja’far.

Menurut Haji Ahmad, ia masih keturunan kesultanan Banten. Ada juga petunjuk papan makam Sarifah Mariyam dan Pangeran Tubagus Anjani. Entah siapa mereka ini. Pun sebuah makam seorang wanita keturunan Cina yang telah masuk Islam.

Yang paling terkenal adalah tempat pembaringan penghabisan Syekh Syarif Hamid Al Qadri yang berada di luar pagar depan masjid yang dibatasi jalan kampung. Nisan inilah yang dirujuk pada papan keterangan di gapura di mulut gang. Syekh Syarif ini adalah putra Sultan Pontianak Pangeran Hamid Al-Qadri.
Pada sekitar 1800-an ia mengadakan pemberontakan melawan pemerintah Hindia Belanda. Ia ditangkap dan dibuang ke Batavia. Sebelum mangkat ia berpesan bahwa jasadnya disemayamkan dekat Masjid Angke. Jasadnya itu kemudian dikubur dengan makam dari batu pualam.

Kini makam tersebut dilapisi marmer putih dan ditutup kain kuning serta dikelilingi pagar. Epigraf arab latin di sudut makam menuliskan keterangan mangkatnya: 64 tahun lebih 35 hari tahun 1854.
Sewaktu saya menghampirinya, di suatu malam Jumat selepas Maghrib, beberapa orang tengah khidmat bersila di sekitar makamnya. Halaman Al-quran yang sudah lapuk dibuka lembar demi lembar. Tak ada suara dari mulut mereka. Rasanya, ada halhal tertentu yang tak bisa kita jelaskan. Tak semuanya dalam hidup bisa kita terangkan dengan gampang. Tak semudah kita membalikkan telapak tangan.

Itu adalah malam Jumat setelah kemarin perayaan ulangtahun masjid yang ke-253 tahun Hijriah. Saya datang sebelum mengetahuinya. Ada kebetulan yang tak terduga yang bikin saya kecewa. Tapi setelah berkenalan dengan Haji Ahmad, semuanya lenyap dan berganti dengan keakraban, percakapan yang hangat, juga kesederhanaan.

Haji Ahmad ini sosok yang menyenangkan. Kita mungkin tak mengira bahwa usianya sudah 71 tahun. Anaknya delapan. Cucunya 21. Dan satu cucunya telah memberinya satu cicit. ”Itu semua,” katanya pada saya sambil tersenyum, ”adalah karunia.”

”Ini,” kata Ahmad sembari tangannya menunjuk dada. ”Ini obatnya. Hati. Jangan pernah menyakiti orang lain.” Nada suaranya penuh tekanan tapi akrab. Tertawa.
Ahmad lahir bukan di sekitar Kampung Rawa Bebek. Ia asli Banten, tepatnya di Kampung Baros, sekitar 14 kilometer dari kota Serang. Perkenalannya dengan Masjid Angke dimulai ketika ia berusia muda.

Ia mengingatnya saat itu tahun 1958, mengajar Sekolah Rakyat di sekitar sini, dan menikah dengan salah satu muridnya. Istrinya adalah anak Muhammad Ali. Sang mertua rupanya pemimpin imam Masjid Angke ini. Ahmad yang kemudian meneruskan tongkat estafet kepemimpinan. Jadilah sekarang ia generasi kelima dari kepala pengurus masjid ini.

”Saya sudah menyiapkannya dari sekarang,” kata Ahmad merujuk siapa nanti yang memimpin Masjid Angke.
”Salah satu anak bapak?”
”Bukan. Saya tak mau. Saya bukan orang seperti itu. Ada beberapa dari pengurus masjid ini. Saya sudah tua…,” Ahmad terkekeh.

Masjid tua, kepala pengurusnya pun sudah tua.
Bagaimana Anda menjelaskan ini? Meski Masjid Angke ini termasuk salah satu cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang, saya kira tanpa Haji Ahmad dan orang-orang kampung di sekitarnya, ia bisa-bisa lapuk dan lumat. Setidak-tidaknya mereka telah semampunya menyemarakkan kehidupan masjid dari usia tua yang rawan.

Maka, datanglah dulu ke sini. Anda resapkan sendiri. Merasakan geletar hubungan-hubungan yang rapat dan akrab antara masjid dan jemaahnya. Atau dalam kata-kata Haji Ahmad sebelum saya pamit, datanglah kapan-kapan. Berbuka puasa di sini. Ramai. Banyak orang… [FAHRI]