Mata Hari. Mata-mata atau penari?

Kisah hidupnya berubah-ubah sepanjang 100 tahun.

Matahari pagi itu muncul jam 06.11.
Semua yang hadir mengenakan mantel tebal,
menahan dinginnya pagi Oktober 1917.

“Ce n’est pas nécessaire“ tolaknya dengan nada dan gaya seorang Lady,
saat sang komandan regu menawarkan penutup mata.

Jam 06.15 duabelas tembakan mengelegar.
Mata Hari tak ada lagi.

Duabelas tahun sebelumnya, 13 Maret 1905, ia dikerumuni penggemar dan wartawan. Performansi tarinya di Museum Guimet, Paris, merupakan inovasi yang menghebohkan kalangan elite Paris. Berlatar patung Dewa Shiwa, terbalut dalam kostum mirip wayang, ia menari setengah telanjang.
Sang penari bercerita bahwa namanya Mata Hari, dari bahasa Sansekerta diterjemahkan sebagai “the eye of the dawn”. Bahwa dirinya berasal dari India Selatan, dari keluarga kasta Brahma, bahwa sejak kecil dirinya dididik untuk menari di candi Shiwa. Bahwa tari-tarian yang tak pernah dipertunjukkan di luar candi adalah keahliannya.
Read the rest of this entry »

Televisi menebar kerusuhan dan perilaku negatif

Judul yang provokatif memang. Maaf, ini karena rasa prihatin dan was-was yang sudah memuncak. Beberapa hari belakangan ini di layar kaca semakin sering ditonjolkan aksi-aksi demo kekerasan, dan seperti biasa: lengkap, sangat detil, dan berulangkali ditayangkan. Seakan mengajarkan pada masyarakat ala buku panduan yang berembel-embel HOW TO.

Meski tidak mampu membuktikan, hati kecil yakin sekali bahwa aksi demo dibumbui kekerasan di negeri ini merupakan kontribusi televisi. Juga kekerasan-kekerasan lain di luar demo. Ditayangkan tanpa pandang waktu atau siapa yang menyaksikan. Menyerahkan pada orang rumah untuk menyensor apa yang dilihat anak? Di tengah kesibukan dan stress akibat macet? Di tengah mahalnya hiburan di luar televisi?
Sungguh tidak mungkin. Hanya mereka yang punya uang akan punya peluang untuk memilih kemana moral anak-anaknya diarahkan.

Sadarkah anda bahwa kebebasan informasi sebetulnya hanya dinikmati oleh berita-berita negatif. Berita-berita baik —bahkan panduan moral yang dirindukan jutaan orang— bisa ditenggelamkan oleh infotainment. Read the rest of this entry »

Kisah Panon Hideung

Panon Hideung, “lagu rakyat Sunda”, lumayan populer di dunia. Tampil asli di film Eastern Promises karya David Cronenberg (2007)), dibawakan gitaris Django Reinhardt (2005) dalam aransemen jazz, atau dalam dentingan bouzouki yang begitu memukau dipetik pakarnya, John Stamatiou Sporos, dan banyak lagi.

Panon hideung pipi koneng [Mata hitam pipi kuning]
Irung mancung Putri Bandung [Hidung mancung putri Bandung]
Putri saha di mana bumina [Anak siapa di mana rumahnya]
Abbi reseup kaanjeunna [Aku suka padanya]
Siang wengi kaimpi-impi [Siang malam terimpi-impi]
Hate abdi sara redih [Hatiku merasa sedih]
Teuemut dahar [Lupa makan]
Teuemut nginum [Lupa minum]
Emut kanu geulis [Ingat pada si cantik]
Panon Hideung [Mata hitam]

Ismail Marzuki, komposer nasional asal Betawi, menulis lirik di atas sekitar tahun 1936-1937. Pada masa itu Ma’ing —begitu ia dipanggil— dan orkesnya, diminta mengisi acara radio di Bandung di segmen lagu-lagu Barat.

Itulah masa-masa saat ia mempelajari dan menguasai komposisi lagu-lagu barat dan lagu tradisional. Banyak lagu Barat yang digubah dan diterjemahkan. Salah satunya adalah Ochi Chyornye (Mata Hitam - Panon Hideung), berkat bantuan Zarkov, seniman asal Rusia yang tinggal di Bandung.
Sebagai informasi, jaman dulu memang banyak seniman asal Rusia berkarya di sini, ada orkes asal Rusia yang tampil reguler di Hotel Des Indes selama 10 tahun, atau di Surabaya ada Pedro (atau Pyotr=Peter), sang pendiri teater Dardanella yang legendaris.

Saat itu, Ma’ing berjumpa dan jatuh cinta pada mojang Parahiayangan yang sangat cantik —sesuai dengan fotonya di bawah ini— Miss Eulis. Read the rest of this entry »

Ayat ayat perubahan

Film Ayat-ayat Cinta adalah sebuah fenomena baru. Ayat-ayat Cinta menggugurkan pandangan yang menganggap orang Indonesia hanya suka kisah ABG dan horor. Ayat-ayat Cinta membangunkan orang-orang yang tak pernah ke bioskop, mereka rela antri berjam-jam bahkan datang lagi pada keesokan harinya jika tak berhasil.
Ayat-ayat Cinta membuka mata kita betapa banyak sebenarnya peminat film Indonesia yang selama ini tidak ke bioskop karena tidak ada jenis film yang disukainya.

Ayat-ayat Cinta menyadarkan kita, betapa sempit visi orang-orang yang memiliki kemampuan dan akses untuk mengembangkan perfilman Indonesia. Bisa dipastikan mereka kini sedang bersiap mengolah film-film bergenre “latah” lagi, kini dengan resep Ayat-ayat Cinta selera masing-masing…

Padahal dinamika kehidupan manusia Indonesia begitu khas, ragam budaya kita begitu berwarna-warni, impian-impian kita bukan hanya materi, ketakutan-ketakutan kita bukan ketakutan semu, bukan hanya ABG yang punya cinta…

Semoga Ayat-ayat Cinta dibaca juga sebagai ayat-ayat yang mendorong kita melakukan perubahan ke arah yang lebih baik lagi.

Batavia Festive on Veteran Street

Sabtu, 30 Juni 2007 | 10:00 - 17:00
Pasar Batavia dan panggung kesenian di Jalan Veteran Satu Jakarta Pusat.
Menampilkan lagu-lagu tradisional Betawi, Jakarta Tempo Doeloe, Keroncong Kemayoran, Keroncong Tugu, Gambang Kromong, Tarian Betawi, paduan suara Perhimpunan Indonesia Tionghoa, parade dan lomba kostum tokoh dan etnis.

Introducing Pentas…

Acara pagelaran, festival, pameran dsb bisa disimak di Pentas.
Di sana juga bisa dilihat direktori Pusat Kebudayaan, Museum dan Galeri.
Semoga bermanfaat.

Jakarta, kita dan balet

balet1.jpg

Pertunjukan balet di Jakarta bukan lagi sebuah pertunjukan yang “angker” dan eksklusif. Ia telah populer. Dan bisa dinikmati siapapun. Itu karena adanya sekolah-sekolah balet yang dengan spartan–terus menerus dan rutin mempegelarkan karya-karya mereka. Dari sekolah-sekolah balet ini kader-kader baru pebalet terus mengalir.
Read the rest of this entry »

Namarina

Inilah sekolah balet yang terdaftar dalam The Royal Academy of Dancing, London. Namarina terdaftar sejak 1974. The Royal Academy of Dancing merupakan salah satu sekolah balet terbaik di dunia yang memiliki kurikulum berstandar internasional untuk pelatihan sistem pengajaran maupun guru balet. Karena ini pula penguji murid kelas balet Namarina selain juga dari penguji lokal didatangkan dari sana.
Read the rest of this entry »

EKI Dance Company

balet3.jpg

LETAKNYA berhadapan dengan Kuil Buddha Hoseiji di jalan Padang di belakang Pasaraya Dept. Store Manggarai. Ia mulai berdiri pada 1996 oleh suami-istri Aiko Senosoenoto dan Rusdy Rukmarata. Aiko selaku direkturnya sementara Rukmarata termasuk salah satu koreografer terbaik di Indonesia. Tempat ini tak cuma sebatas kelompok tari tapi juga ”sebuah wadah yang secara profesional mengelola seni dalam arti luas.” Mulai dari pendidikan dan pementasan seni hingga set panggung macam tata lampu, tata suara maupun properti.
Read the rest of this entry »