Mata Hari. Mata-mata atau penari?
17 April 2008 — bataviaseKisah hidupnya berubah-ubah sepanjang 100 tahun.

Matahari pagi itu muncul jam 06.11.
Semua yang hadir mengenakan mantel tebal,
menahan dinginnya pagi Oktober 1917.
“Ce n’est pas nécessaire“ tolaknya dengan nada dan gaya seorang Lady,
saat sang komandan regu menawarkan penutup mata.
Jam 06.15 duabelas tembakan mengelegar.
Mata Hari tak ada lagi.
Duabelas tahun sebelumnya, 13 Maret 1905, ia dikerumuni penggemar dan wartawan. Performansi tarinya di Museum Guimet, Paris, merupakan inovasi yang menghebohkan kalangan elite Paris. Berlatar patung Dewa Shiwa, terbalut dalam kostum mirip wayang, ia menari setengah telanjang.
Sang penari bercerita bahwa namanya Mata Hari, dari bahasa Sansekerta diterjemahkan sebagai “the eye of the dawn”. Bahwa dirinya berasal dari India Selatan, dari keluarga kasta Brahma, bahwa sejak kecil dirinya dididik untuk menari di candi Shiwa. Bahwa tari-tarian yang tak pernah dipertunjukkan di luar candi adalah keahliannya. Read the rest of this entry »






Judul yang provokatif memang. Maaf, ini karena rasa prihatin dan was-was yang sudah memuncak. Beberapa hari belakangan ini di layar kaca semakin sering ditonjolkan aksi-aksi demo kekerasan, dan seperti biasa: lengkap, sangat detil, dan berulangkali ditayangkan. Seakan mengajarkan pada masyarakat ala buku panduan yang berembel-embel HOW TO.
Ismail Marzuki, komposer nasional asal Betawi, menulis lirik di atas sekitar tahun 1936-1937. Pada masa itu Ma’ing —begitu ia dipanggil— dan orkesnya, diminta mengisi acara radio di Bandung di segmen lagu-lagu Barat.
Film Ayat-ayat Cinta adalah sebuah fenomena baru. Ayat-ayat Cinta menggugurkan pandangan yang menganggap orang Indonesia hanya suka kisah ABG dan horor. Ayat-ayat Cinta membangunkan orang-orang yang tak pernah ke bioskop, mereka rela antri berjam-jam bahkan datang lagi pada keesokan harinya jika tak berhasil.
Sabtu, 30 Juni 2007 | 10:00 - 17:00















