Hari Bumi yang mengusik kenyamanan…
22 April 2008 — bataviase
Judulnya meminjam istilah Al Gore, An Inconvenient Truth. Jika ada yang belum menonton, sempatkanlah menyaksikannya lewat HBO dan CineMax malam ini, disajikan untuk menyambut Hari Bumi.
Keputusan untuk mengusir delman dari Taman Monumen Nasional terasa mengusik-usik hati, bertentangan dengan cita-cita Kartini dan konsep berwawasan lingkungan. Tetapi tetap ditahan untuk tidak menuliskannya, demi menghormati dan menghargai wanita pertama yang menjadi walikota Jakarta. Juga karena Gubernur telah menganjurkan agar segera dicarikan solusi mengatasi masalah kotoran kuda dan mengizinkan delman kembali beroperasi.
Lihatlah betapa hal-hal yang alami kini sudah dianggap mengusik kenyamanan. Padahal ia diciptakan untuk menjaga keseimbangan ekologi. Kotoran kuda pasti bermanfaat bagi tumbuhan dan mahluk-mahluk mikro yang membuat bumi ini layak dihuni manusia.
Menjadi tuan rumah Konperensi Pemanasan Global ternyata berpengaruh positif terhadap kesadaran publik. Hari Bumi tahun ini lebih terasa dibanding sebelumnya. Anak-anak hingga orangtua, para pejalan kaki hingga media massa, semakin sadar dan semakin kritis.
Kini tinggal para bapak-bapak dan ibu-ibu di pemerintahan dan parlemen, untuk mengaplikasikan dalam peraturan dan pelaksanaan di segala bidang. Agar publik bisa dengan leluasa menerapkan apa yang dianjurkan dalam An Inconvenient Truth. Read the rest of this entry »








Judul yang provokatif memang. Maaf, ini karena rasa prihatin dan was-was yang sudah memuncak. Beberapa hari belakangan ini di layar kaca semakin sering ditonjolkan aksi-aksi demo kekerasan, dan seperti biasa: lengkap, sangat detil, dan berulangkali ditayangkan. Seakan mengajarkan pada masyarakat ala buku panduan yang berembel-embel HOW TO.
30 Maret lusa ada kegiatan rutin menutup Jalan MH Thamrin dan Jalan Sudirman pada rentang jam 06:00-14:00. Semoga nanti tidak sesepi ini.
Pada 22 Maret 2005 diproklamirkan dekade air internasional:
Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B Jassin merupakan suatu lembaga nirlaba yang salah satu tugasnya adalah mendokumentasikan hasil cipta sastra bangsa Indonesia.
Tak banyak yang tahu penari dan koreografer kenamamaan Indonesia, Sulistyo Tirtokusumo kini menjabat sebagai Direktur Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (TYME).













