Chaplin

Di luar, salju turun tebal. Dingin menusuk. Tak ada makanan. Persediaan kayu bakar di bangunan kayu itu makin menipis. Chaplin menggigil. Temannya yang bernama Big Jim sudah hampir kaku. Hanya mereka berdua di pondok itu.
Big Jim berbadan tambun, bercambang, terkesan kuat. Tapi daya tahannya lemah. Ia mengalami halusinasi. Tiba-tiba di matanya tubuh Chaplin berubah menjadi ayam besar. Menantang untuk dimasak. Big Jim meraih pisau, hendak menyerang Chaplin. Begitu pisau terangkat, matanya kembali normal. Big Jim bingung. Melihat gelagat itu, Chaplin lalu menjauhkan pisau.
Halusinasi muncul lagi. Big Jim mengambil senapan. Tapi Big Jim masih ragu-ragu. Ia mengucek-ucek matanya. Chaplin langsung merebut senapan itu dan menimbunnya di salju. Terakhir Big Jim mengambil kapak. “Ayam atau bukan, aku lapar,” kata Big Jim. Lalu terjadi pergumulan antara Chaplin dan si brewok itu. Tanpa disadari seekor beruang masuk. Ikut bergumul dengan mereka. Chaplin menembak beruang itu. Jadilah mereka memiliki daging bakar lezat.

Gold Rush di atas bukan film terbaik Chaplin. Film itu tak sekaliber Modern Times atau Great Dictator yang penuh satir. Tapi masih saja komedinya cerdas. Kita dapat tertawa karena kekonyolannya yang manusiawi. Tapi yang menjadi istimewa, film bisu Chaplin ini di Jiffest (Jakarta International Film Festival) Desember lalu, ditayangkan dengan diiringi permainan musik musisi-musisi kita. Pada Jiffest sebelumnya pernah film-film bisu Jerman dari Fritz Lang atau F Murnau dibuat acara .
Read the rest of this entry »

Penangkapan Diponegoro

Lukisan Karya Raden Saleh

Satu-Satunya lukisan yang menunjukkan identitas nasional Indonesia

oleh Max de Bruijn & Yulia Irma Pattopang

Raden Saleh, yang dikenal sebagai pelukis kerajaan Belanda, membuat lukisan Penangkapan Diponegoro 28 Maret 1830 sebagai reaksi dan kritiknya terhadap pemerintah kolonial Belanda atas lukisan serupa yang telah dibuat sebelumnya oleh seorang pelukis Belanda bernama N. Pieneman, berjudul Penaklukan Diponegoro.

dipo.jpg

LUKISAN PENAKLUKAN DIPONEGORO KARYA SEORANG PELUKIS BELANDA, N. PIENEMAN. DIBUAT BEBERAPA TAHUN SEBELUM RADEN SALEH MEMBUAT VERSINYA YANG MERUPAKAN KRITIKAN DAN DIBERI JUDUL PENANGKAPAN DIPONEGORO. LUKISAN RADEN SALEH TERSEBUT, DENGAN TAMPILAN YANG BAIK, SULIT SEKALI UNTUK DIDAPAT. [ SUMBER: N. PIENEMAN, RIJKSMUSEUM AMSTERDAM ]

Read the rest of this entry »

Air Jakarta

Sebuah sindrom terlampauinya daya dukung

Prof Dr Otto Soemarwoto

prof-otto.jpgSehari-harinya Jakarta kekurangan air. Dalam musim hujan Jakarta banjir. Dalam lima tahun terakhir Jakarta dilanda banjir besar dua kali.
Dalam tahun 2002 dan 2007.
Baik kekurangan air maupun banjir dianggap masalah air. Solusi yang dicari juga terbatas pada penanganan masalah air, seperti membuat bendungan dan banjir kanal. Padahal masalah air hanyalah sebuah gejala dalam sindrom terlampauinya daya dukung lingkungan hidup (LDD).

Sebuah sindrom adalah kumpulan gejala yang menengarai sebuah penyakit. Misalnya, AIDS adalah sebuah sindrom penyakit yang disebabkan oleh virus HIV dengan berbagai gejala, seperti kanker, mencret, infeksi paru-paru, dll.
Masing-masing gejala perlu diobati, tetapi pusat perhatian adalah menangani virus HIV tersebut. Seperti halnya pada AIDS, pusat perhatian penanganan Jakarta haruslah pada sindrom LDD. Jadi harus dicari penyebab sindrom LDD.
Read the rest of this entry »

Membaca di balik bangunan

Mudji Sutrisno

Melihat dengan mata fi sik, bangunan di jalan pusat Taman Fatahillah itu bernama Museum Wayang. Namun melihat dengan budi dan membaca dengan mata budi, tahulah kita, bangunan ini penuh riwayat sejarah. Pada jaman V.O.C. sampai akhir pemerintahan Hindia Belanda, bangunan ini untuk gereja kristen Protestan yang merupakan agama resmi kekuasaan Belanda dan petinggipetingginya.

Jangan lupa sejarah mencatat sesama agama kristiani yaitu Katolik dilarang pula untuk berkembang dipemerintahan petinggi kolonial Belanda yang mayoritas Protestan baru boleh membuat sekolah dan menjalankan ibadat 3 dekade sebelum R.I. merdeka itu pun karena terjadi pergeseran dan perubahan politik di Belanda.
Read the rest of this entry »

Langit Selatan

sebuah kubah sisa mesjid zaman lalu
dan bukit teropong bintang -
puing kejayaan tak terjangkau…

langit.jpg

Sebuah ledakan aneh terjadi di langit kabupaten Ngada. Suaranya
menggelegar - memecah keheningan. Seperti ada dentuman. Membuat warga semburat. Melongok ke atas. Dan menyaksikan ada seperti percikan api di angkasa. Belum diketahui apa yang terjadi di langit Flores itu. Peristiwa alam apa. Apakah itu meteor atau satelit yang jatuh kita tak tahu.
Berita koran beberapa minggu lalu itu lenyap. Tenggelam oleh kejadian lain yang memiriskan: gempa di Bukit Tinggi - yang memboyakkan Ngarai Sianok.
Read the rest of this entry »

Hidup yang Jazzy

oleh: Danarto

Hidup tentu tidak punya patokan. Jika ada yang merasa punya patokan, itulah bukan hidup. Contohnya:
ketika kita bangun pagi, pekerjaan di kantor sudah menunggu meski di kantor sebenarnya tidak ada pekerjaan. Saking banyaknya PNS yang tidak punya pekerjaan di
kantor, ini berarti tidak sangkil dan mangkus, jutaan orang, Menteri PAN ingin mem-phk mereka. Sekitar 2 juta jiwa kalau nggak salah jumlahnya. Wah, jangan dong, Pak Menteri. Jangan pernah terjadi. Soalnya, mem-phk itu mudah, tapi beban sosialnya, berat betul. Mau ngirit seribu rupiah, akibatnya bisa rugi sepuluh ribu rupiah. Perhitungan phk bukan perhitungan untung rugi, melainkan: nyawa. Biar kita sama-sama miskin, asal sama-sama merasakannya.
Read the rest of this entry »

Nieuwpoortstraat, Kontroversi Gerbang Baru

Artikel ini ditulis bukan karena ingin mengkritik atau memihak salah satu pihak yang mungkin berlawananan pendapat, tapi sekedar ingin memperlihatkan fakta-fakta yang telah didapatkan sampai saat ini. Betapa banyak yang sebenarnya masih dapat diteliti dari sebuah penggalian guna mempercantik ibukota Negara ini.
Jika penelitian semacam itu dapat direalisasikan, ia akan memperkaya sejarah perjalanan kota ini, memperbanyak koleksi kisah sejarah yang dapat diceritakan kepada turis-turis, menambah kisah sejarah yang dapat memperkaya pengetahuan generasi muda supaya makin mengenal dan merawat ibukotanya yang dulu terkenal dengan julukan Ratu dari Timur (De Koningin van het Oost).

Beberapa bulan lalu ada banyak pemberitaan tentang pembangungan terowongan di bawah sekitar taman Stasiun Kota atau Stasiun Beos yang menimbulkan banyak pertanyaan dan pertentangan dari kalangan wartawan, ahli, pengamat dan pencinta sejarah dengan pemerintah daerah atau pihak dinas kebudayaan dan purbakala DKI Jakarta. Sampai akhirnya saat ini pembangungan hampir rampung dan perihal ini sepertinya ditutup saja.

Banyak yang ingin tahu apa yang sebenarnya yang tertanam di bawah merahnya tanah kota Jakarta ini, namun sepertinya belum banyak informasi yang dapat diterima oleh para pecinta sejarah, wartawan atau bahkan masyarakat awam yang telah haus tentang kebenaran kisah lama kota Jakarta. Kebanyakan berpendapat bahwa pembangunan kota Jakarta saat ini hanya dapat menggeser keberadaan situs-situs tua yang ada di Jakarta dan mengancam hilangnya sisa-sisa tata kota Batavia zaman VOC yang sampai saat ini sebenarnya masih tertanam di bawah kota Jakarta.

Hal paling mudah agar dapat membayangkan keadaan kota Jakarta atau Batavia secara persis pada zaman VOC adalah dengan mencari peta Batavia dari sekitar abad ke-18. Pada masa itu kota Batavia masih merupakan kota kecil yang dikelilingi tembok sebagai pelindung kota dari berbagai macam serangan luar. Wilayah Batavia tentunya belum seluas wilayah Jakarta sekarang ini, jika dapat membayangkan, Batavia saat itu hanya sampai sekitaran daerah Hayam Wuruk.

Peta Batavia dari tahun 1797.


Read the rest of this entry »

Ustad Zakir Hussain

Tak peduli keringatnya menetes terus, Pandit Vikku Vinayakram selama dua jam penuh memukul ghatam dengan semangat. Instrumen perkusi tradisional India itu berbentuk seperti kendi. Ditabuh di leher dan bagian cembung perutnya. Suaranya nyaring, keras, menggigit, dinamik.

Malam itu termasuk salah satu tontonan yang paling mengesankan di Taman Ismail Marzuki. Terutama mungkin bagi pecinta jazz rock yang sempat hadir. Vikku dikenal seorang pioner musisi tradisional India yang mengharubirukan sejarah jazz rock dunia.
Ia adalah tokoh yang turut ambil bagian membangun genre yang sering disebut ‘ragas rock’.

Malam itu bersama keluarganya, termasuk putra sulungnya Mahesh Vinayakram, ia menghidangkan ansambel ghatam yang super energik. Melihat penampilannya, para penggemar musik pasti membayangkan bagaimana kehebatan Vikku saat masih muda bersama dengan maestro tabla Ustad Zakir Hussain, pemain biola Lakshminarayana Shankar, bergabung dengan gitaris grup jazz rock John Mclaughlin membentuk grup legendaris: Shakti.

Boleh disebut Shakti adalah band lintas batas. Dua orang Hindu. Seorang Islam. Seorang Katolik. Secara musikal pun banyak yang menganggap Shakti merupakan salah satu kolaborasi timur dan barat yang paling berhasil.

Ustad Zakir mewarisi tradisi musik sufistik yang panjang di India. Sejak umur 19 tahun ia pindah ke California dan menjadi arsitek gerakan ‘world music’. Selain dengan Mclaughin, ia pernah bekerjasama dengan drumer Billy Cobham atau basis Jack Bruce.
Tahun 1992, Planet Drum, sebuah album hasil kolaborasinya bersama Mickey Hart, mantan perkusionis band Amerika Grateful Dead, meraih Grammy untuk album World Music terbaik.

Ayah Zakir adalah Ustad Alla Rakha, seorang “raksasa” tabla tersohor asal Jammu. Ustad Alla bersama maestro sitar Ravi Shankar dan pemain sarod Ali Akbar Khan adalah generasi pertama musisi klasik India yang menembus dunia. Kita tahu, Shankar adalah guru George Harisson, anggota The Beatles.

Saya menemukan piringan hitam bekas di loakan jalan Surabaya yang berisi rekaman ketiganya bermain bareng di Philharmonic Hall, New York, Oktober 1972. Pertunjukan langka itu untuk mengenang Ustad Allaudin Khan, guru Shankar dan Akbar yang meninggal di desa kecil di India September 1972. Kedua tokoh itu menyebut Ustad Allaudin sebagai Baba (Ayah). Keduanya menyatakan mengikuti ajaran Baba bahwa musik adalah jalan menuju ilahi.

Memasuki Ramadhan ini, saya teringat bagaimana inovasi-inovasi para musisi India klasik tersebut bisa menjadi semangat spiritual universal. Sebab setiap Ramadhan tiba selama sebulan penuh televisi diserbu lagu-lagu religius, mulai dari Bimbo, nasyid, qasidah, sampai kelompok seperti Debu. Mendadak muncul dai-dai cilik sampai artis-artis yang dengan syahdu mendendangkan lagu-lagu menyiram ruhani. Eksprimentasi mungkin dihindari di situ. Takaran utama pada makna spiritual di situ kebanyakan diukur dengan materi lirik-lirik berunsur dakwah yang sangat menonjol. Tapi sesungguhnya ukuran “religiutas” sebuah musik bukan hanya terletak pada teksnya yang bertema ibadah.

Ismail Farukhi pernah menulis sejatinya ciri khas seni Islami adalah kualitas abstraknya. Desain-desain arabesk misalnya penuh dengan pola-pola rumit, kombinasi-kombinasi suksesif, kekayaan variasi struktur yang mengalir kontinyu.
Desain arabesk menurut Farukhi memburu infinitas yang tidak pernah bisa ditangkap dengan sebuah penglihatan tunggal. Ia harus ditangkap melalui serangkaian pengamatan secara serial. Meskipun ini untuk menerangkan pola senirupa, tapi agaknya bisa dipakai untuk penjelasan bagaimana mendengar komposisikomposisi Shakti.
Simak Happines is Being, Mind Ecology atau Peace Mind dari album Natural Elements.

Antara Mclaughlin, Vikku, Zakir menghasilkan sebuah komposisi instrumental yang tingkat variasi teksturnya demikian tinggi tapi mengalir. Atau sebuah instrumen berdurasi 29 menit dalam album live mereka berjudul What Need Have I For This? What Need Have I For That? I am Dancing at The Feet Of My Lord? All is Bliss-All is Bliss yang menyajikan diskusi rumit panjang antara tabla dan ghatam.

Tuhan tak berbentuk. Hazrat Innayat Khan, seorang sufi India memberi alasan mengapa makin abstrak sebuah karya seni, ia bisa memberi jalan jiwa menggayuh dimensi ilahi. Dan dibanding jenis karya seni lain yang paling mampu mengabstraksikan jiwa adalah musik. Sebab Hazrat melihat hakikat ruh sesungguhnya adalah bunyi.

Ia gemar mengutip kisah rakyat ini: saat Tuhan membentuk patung dari tanah liat menyerupai citra-Nya dan meminta ruh masuk, ruh menolak. Ruh tidak ingin terbelenggu dalam kurungan badan. Lalu Tuhan meminta malaikat memainkan musik. Mendengar musik itu ruh ekstase lalu memasuki tubuh….
Esensi ruh yang bernyanyi menggelorakan vitalitas cinta dan persahabatan lintas agama. Tak mengherankan apabila pukulan tabla Ustad Zakir bisa cocok menjadi soundtrack film Little Budha karya Bernado Bertolluci.

Atau ratapan suara almarhum Nusrat Fateh Ali Khan menjadi latar belakang film Last Temptation of Christ karya Martin Scorsese. Ketika Kristus disalib dalam film itu terdengar jeritan senandung menyayat. Tak banyak yang tahu itu suara Nusrat, biduan Qawali, musik Pakistan yang mengetengahkan lagu-lagu pujian bagi Muhammad.
Tak semua orang memang seperti mereka.

Di India kita tahu sampai kini tetap ada gelombang para fanatik. Novelis Amitav Gosh melihat para bigot itu sering menciptakan masa lalunya sendiri yang berbeda dengan kenyataan. Gosh banyak meneliti toleransi agama dalam sejarah India. Menurutnya banyak penguasa-penguasa Muslim yang memberi dukungan kepada budaya Hindu dan sebaliknya.

Bacalah esai Gosh tentang penguasa India pertama dari kalangan muslim Dinasti Mughal, Zahiruddin Mohamma Babar (1483-1530): Love and War in Afghanistan and Central Asia: The Life of the Emperor Babur. Babar terpesona pada Guru Nanak, seorang pendiri Sikh Hindu, dan bersimpuh dihadapannya. ”Di wajah faqir ini aku melihat wajah Tuhan,” tulisnya di otobiografinya, seperti dikutip Gosh.

Di kita pun terjadi hal yang sama. Toh, saya pernah mengikuti komponis Sutanto Mendut nglayap ke desa Warangan di Lereng Gunung Merbabu. Di situ ada tradisi musik truntung. Ini tambur kecil yang dipukul dengan stick dengan pentul di ujungnya. Truntung ramai dipegelarkan masal bila Saparan dan Tasakuran. Yang menarik para pemain truntung di situ bisa begitu terbuka, bersahabat dan bersemangat menerima tawaran kolaborasi manapun.

Sudah banyak komponis eksprimental dan musisi jazz manca yang “jam session” dengan mereka. “Sinkopasi ketukan truntung tinggi, tajam, mampu berasimilasi dengan jazz manapun,” kata Tanto. Terakhir, pianis jazz dan matematikawan Guerino Mazzola dan drumer Heinz Geisser dari Swiss berkolaborasi dengan mereka untuk keperluan film dokumentasi karya Garin Nugroho.

Ramadhan di Jakarta selalu semarak. Bedug ditabuh bertalu-talu. Macan-macan gambus Kemayoran keluar dari sarangnya. Hadrah Betawi tak lagi terkurung dalam pesta-pesta perkawinan. Tiba-tiba saya memikirkan musik di kala Ramadhan bisa menjadi cermin pencarian kebahagian spiritual bersama… [Wikana]