Kekuasaan yang Mengelak

Untuk menguatkan dan mendukung himbauan dan pesan yang terkandung, kami tampilkan editorial Kompas hari ini. Semoga kekuatan putih berhasil mengalahkan dominasi kekuatan hitam.

Terungkapnya kasus penyuapan aparat kejaksaan dan anggota DPR, pengalihan rumah negara jadi rumah pribadi, contoh fenomena krisis moralitas negeri ini.

Absurd! Kasus-kasus terjadi justru ketika pemerintah sedang aktif memberantas korupsi. Ada kesan sengaja melecehkan. Ada kesan nekat! Sebaliknya fenomena itu merupakan justifikasi kesan makin tak adanya sikap ksatria, keteladanan, dan berpihak kepada rakyat. Read the rest of this entry »

Televisi menebar kerusuhan dan perilaku negatif

Judul yang provokatif memang. Maaf, ini karena rasa prihatin dan was-was yang sudah memuncak. Beberapa hari belakangan ini di layar kaca semakin sering ditonjolkan aksi-aksi demo kekerasan, dan seperti biasa: lengkap, sangat detil, dan berulangkali ditayangkan. Seakan mengajarkan pada masyarakat ala buku panduan yang berembel-embel HOW TO.

Meski tidak mampu membuktikan, hati kecil yakin sekali bahwa aksi demo dibumbui kekerasan di negeri ini merupakan kontribusi televisi. Juga kekerasan-kekerasan lain di luar demo. Ditayangkan tanpa pandang waktu atau siapa yang menyaksikan. Menyerahkan pada orang rumah untuk menyensor apa yang dilihat anak? Di tengah kesibukan dan stress akibat macet? Di tengah mahalnya hiburan di luar televisi?
Sungguh tidak mungkin. Hanya mereka yang punya uang akan punya peluang untuk memilih kemana moral anak-anaknya diarahkan.

Sadarkah anda bahwa kebebasan informasi sebetulnya hanya dinikmati oleh berita-berita negatif. Berita-berita baik —bahkan panduan moral yang dirindukan jutaan orang— bisa ditenggelamkan oleh infotainment. Read the rest of this entry »

Car free day. Mengapa sepi?

30 Maret lusa ada kegiatan rutin menutup Jalan MH Thamrin dan Jalan Sudirman pada rentang jam 06:00-14:00. Semoga nanti tidak sesepi ini.
Program Car Free Day juga akan diperluas ke kota madya, seperti di Jalan Wijaya untuk Jakarta Selatan, Jalan Danau Sunter di Jakarta Utara dan di kawasan Kota Tua untuk Jakarta Barat.

Budirama Natakusumah, Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta, menyampaikan bahwa pada 2006 terselenggara 45 hari bersih, 2007 ada 73 hari, dan 2008 ditargetkan 100 hari bebas polusi.
Dari sisi pengurangan polusi udara, kegiatan Car Free Day dianggap sukses. Tapi manfaat yang jauh lebih dalam dan lebih luas, belum digali dan dinikmati oleh warga Jakarta. Car Free Day di Jakarta bagai batu hitam tergeletak sia-sia, padahal jika digosok dengan benar ia akan menjadi intan yang tak terukur nilainya.

Car Free Days seharusnya menjadi hari-hari berharga bagi warga Jakarta yang sehari-harinya mengalami berbagai macam tekanan. Car Free Day merupakan peluang untuk interaksi informal yang positif antar sesama setelah lama tenggelam dalam individualisme kemacetan. Read the rest of this entry »

Kisah Panon Hideung

Panon Hideung, “lagu rakyat Sunda”, lumayan populer di dunia. Tampil asli di film Eastern Promises karya David Cronenberg (2007)), dibawakan gitaris Django Reinhardt (2005) dalam aransemen jazz, atau dalam dentingan bouzouki yang begitu memukau dipetik pakarnya, John Stamatiou Sporos, dan banyak lagi.

Panon hideung pipi koneng [Mata hitam pipi kuning]
Irung mancung Putri Bandung [Hidung mancung putri Bandung]
Putri saha di mana bumina [Anak siapa di mana rumahnya]
Abbi reseup kaanjeunna [Aku suka padanya]
Siang wengi kaimpi-impi [Siang malam terimpi-impi]
Hate abdi sara redih [Hatiku merasa sedih]
Teuemut dahar [Lupa makan]
Teuemut nginum [Lupa minum]
Emut kanu geulis [Ingat pada si cantik]
Panon Hideung [Mata hitam]

Ismail Marzuki, komposer nasional asal Betawi, menulis lirik di atas sekitar tahun 1936-1937. Pada masa itu Ma’ing —begitu ia dipanggil— dan orkesnya, diminta mengisi acara radio di Bandung di segmen lagu-lagu Barat.

Itulah masa-masa saat ia mempelajari dan menguasai komposisi lagu-lagu barat dan lagu tradisional. Banyak lagu Barat yang digubah dan diterjemahkan. Salah satunya adalah Ochi Chyornye (Mata Hitam - Panon Hideung), berkat bantuan Zarkov, seniman asal Rusia yang tinggal di Bandung.
Sebagai informasi, jaman dulu memang banyak seniman asal Rusia berkarya di sini, ada orkes asal Rusia yang tampil reguler di Hotel Des Indes selama 10 tahun, atau di Surabaya ada Pedro (atau Pyotr=Peter), sang pendiri teater Dardanella yang legendaris.

Saat itu, Ma’ing berjumpa dan jatuh cinta pada mojang Parahiayangan yang sangat cantik —sesuai dengan fotonya di bawah ini— Miss Eulis. Read the rest of this entry »

Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin

Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B Jassin merupakan suatu lembaga nirlaba yang salah satu tugasnya adalah mendokumentasikan hasil cipta sastra bangsa Indonesia.

Berlokasi di dalam Taman Ismail Marzuki (TIM), gedung di lantai dua itu terletak di belakang Planetarium. Setiap hari dikunjungi sekitar 30 orang, yang sebagian besar adalah pelajar SMA, selain mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi atau peneliti sastra Indonesia dari dalam dan luar negeri.

Menjelang sore hari, beberapa penyair dan pengarang berkumpul untuk berdiskusi atau mendampingi Endo Senggono, Kepala Perpustakaan PDS H.B Jassin yang kerap menerima rombongan siswa dan mahasiswa dari beberapa daerah di Indonesia yang melakukan studi banding dan jumpa dengan
sastrawan. Setiap tahun PDS H.B Jassin menerima sekitar 30 rombongan. Setiap rombongan terdiri dari 50-200 orang. Read the rest of this entry »

Ayat ayat perubahan

Film Ayat-ayat Cinta adalah sebuah fenomena baru. Ayat-ayat Cinta menggugurkan pandangan yang menganggap orang Indonesia hanya suka kisah ABG dan horor. Ayat-ayat Cinta membangunkan orang-orang yang tak pernah ke bioskop, mereka rela antri berjam-jam bahkan datang lagi pada keesokan harinya jika tak berhasil.
Ayat-ayat Cinta membuka mata kita betapa banyak sebenarnya peminat film Indonesia yang selama ini tidak ke bioskop karena tidak ada jenis film yang disukainya.

Ayat-ayat Cinta menyadarkan kita, betapa sempit visi orang-orang yang memiliki kemampuan dan akses untuk mengembangkan perfilman Indonesia. Bisa dipastikan mereka kini sedang bersiap mengolah film-film bergenre “latah” lagi, kini dengan resep Ayat-ayat Cinta selera masing-masing…

Padahal dinamika kehidupan manusia Indonesia begitu khas, ragam budaya kita begitu berwarna-warni, impian-impian kita bukan hanya materi, ketakutan-ketakutan kita bukan ketakutan semu, bukan hanya ABG yang punya cinta…

Semoga Ayat-ayat Cinta dibaca juga sebagai ayat-ayat yang mendorong kita melakukan perubahan ke arah yang lebih baik lagi.

Gong Xi Fa Cai


Meski sudah dibanjiri dari mana-mana, mudah-mudahan setetes lagi ucapan selamat dari kami bisa turut membantu berlimpahnya berkah di tahun tikus ini. Semoga kebahagiaan kita juga bisa menambah indahnya warna warni kehidupan di sekitar kita.

Akhirnya Bogor bisa menarik nafas lega

Meski bukan orang Bogor, saya selalu sakit hati kalau dengar/baca istilah banjir kiriman. Bukan karena merasa dituduh mengirim banjir, tapi lebih karena pembodohan masyarakat yang dilakukan oleh para pejabat dan media massa dengan berulang-ulang mengunakan istilah itu.
Kini, saat Jakarta lumpuh dilanda banjir, di Bogor ternyata tidak hujan. Tanya kenapa.

Juga soal banjir yang bersiklus lima tahunan, BMG dan para pakar sudah membantah adanya siklus lima tahunan, tapi tetap saja —secara sadar atau tidak, masyarakat terus disodori siklus yang sebenarnya tidak ada.

Tuhan menciptakan banjir untuk memelihara kelangsungan hidup alam semesta. Jika banjir yang dulu merupakan rahmat kini berubah menjadi musibah, tentu manusianya yang bandel. Read the rest of this entry »

Malaysia dan Inventarisasi Budaya

Timbulnya kasus beberapa ragam budaya kita yang diaku sebagai budaya Malaysia, sedikit banyak sebetulnya merupakan buah ketidakpedulian kita.

Kita baru bisa menyadari betapa banyak harta dan kekayaan di rumah jika kita tinggal misalnya di kolong jembatan, atau di tempat lain, di mana tidak tersedia segala apa yang ada di rumah kita itu.

Mencoba memahami langkah-langkah Malaysia tersebut akan bisa meredakan emosi kita dan akan jauh lebih produktif jika kemudian kita menyusun strategi untuk memelihara pusaka budaya yang belum tuntas kita hitung.

Apa yang dilakukan Malaysia adalah menginventarisasi budaya yang eksis di sana. Jika ada beberapa budaya yang mirip bahkan persis sama, adalah suatu kewajaran mengingat persinggungan budaya sudah terjadi sejak ratusan tahun. Sebagaimana kasus barongsai, rangda, reog dan beragam seni budaya lain di Indonesia. Bukankah lagu kebangsaan Malaysia mirip sekali dengan lagu anak-anak “Terang Bulan” dan “Panon Hideung” sebetulnya adalah lagu rakyat Rusia “Очи Черные“?

Sejak sepuluh tahun lalu UNESCO sudah menganjurkan kita untuk melakukan inventarisasi budaya. Tapi apa yang kita lakukan? Dari ratusan, mungkin ribuan —adakah yang menghitung, hanya wayang (2003) dan keris (2005) saja yang diakui (diajukan?) sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity.

Barangkali bisa dimaklumi bahwa eforia reformasi politik yang membuat urusan budaya menjadi terbengkalai. Konvensi Pelestarian Pusaka Budaya non-Bendawi (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage) yang disepakati 17 Oktober 2003 baru ditandatangani Indonesia pada 15 Oktober 2007 lalu.

Sistem pengumpulan data dan invetarisasi budaya yang dilakukan UNESCO tersebut dimaksudkan antara lain agar masing-masing negara bisa mengaplikasikannya untuk melaksanakan inventarisasi budayanya sendiri.

Bukankah dengan demikian kita bisa membuat Proklamasi Mahakarya versi nasional? Mereka yang pernah terlibat dalam pengajuan wayang dan keris untuk Proklamasi Mahakarya versi UNESCO bisa menjadi komponen penting dalam kepanitiaannya, tentunya dengan mengenali dan memperbaiki kesalahan-kesalahan.

Jika UNESCO sudah melakukan tigakali, dan Malaysia sudah siap-siap memproklamirkan mahakaryanya, tentu bukan UNESCO dan Malaysia yang salah bukan?