Jalan-jalan dari pedestrian ke partai…

“Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk berjalan —sebagai pedestrian.
Ikan berenang, burung harus terbang, rusa perlu berlari-lari, maka kita pun harus berjalan. Bukan berjalan untuk bertahan hidup, tapi untuk bersenang-senang.”

Itu kutipan kata-kata Enrique Penalosa yang membuat trotoar lebar-lebar lebih dari lima kaki, malah ada yang lebih lebar dari jalan mobil, nun jauh di sana, di Bogota.

Oya, selagi ingat: anak-anak sekarang bingung jika ditanya kenapa para pedagang di pinggir jalan disebut pedagang kakil lima. Begini adik-adik: dulu, standar lebar trotoar adalah lima kaki, sehingga trotoar disebut juga kakilima. Karena itu pedagangnya berkaki lima. Sekarang kita tidak punya atau tidak tahu standar (juga di banyak hal, tidak hanya trotoar) sehingga tak heran kalau muncul generasi bingung… ups, maaf maksudnya, sebagian generasi muda jadi bingung.

Kembali ke lapt… eh, pedestrian.
Ada satu hal yang kurang disadari para pengambil keputusan (dpr, pemerintah) dan masyarakat, hal yang sangat mendasar, yang sangat mempengaruhi salah kaprahnya tertib lalulintas kita : bahwa jalan raya adalah sebuah ruang publik.
Sebagai ruang publik, kita semua harus berbagi. Karena pejalan kaki jauh lebih banyak jumlahnya dari pengendara, maka hak terbesar dimiliki pihak pejalan kaki, bukan pemilik uang pengendara. Para pengendara hanya lewat, atau statusnya sebagai tamu. Berarti mereka harus bersikap sopan terhadap tuan rumah, para pejalan kaki, pedestrian. Jangan malah menancap gas begitu melihat pedestrian ingin menyeberang… hanya karena malas menginjak kopling ganti persneling.

Read the rest of this entry »